![]() |
| http://niaat2108.blogspot.co.id/2017/12/piagam-gumi-sasak.html |
Budaya adalah
identitas diri. Artinya setiap budaya memiliki tuan dan berhak
mempertahankannya, tanpa harus dikurangi atau dilebihkan esensi dan value yang
terkandung di dalamnya. Sasak, Samawa, dan Mbojo atau biasa disingkat dengan SAMAWA adalah
sebutan untuk masyarakat yang tinggal di Nusa Tenggara Barat. Suku Sasak adalah
masyaratkat yang tinggal di pulau Lombok, Sawama adalah masyarakat Sumbawa, dan
Mbojo adalah masyarakat yang tinggal di Kota dan Kabupaten Bima. Dan masing-masing
dari ketiga suku itu memiliki ragam budaya yang berbeda. Saling mempertahankan
budaya masing-masing, adalah tugas anak bangsa, bukan hanya budayawan yang
memang berkiprah penuh terhadap pemertahanan budaya.
Beberapa
tahun yang lalu, muncul isu-isu yang tidak mengenakkan, baik itu secara lisan
ataupun dengan tulisan terhadap budaya Sasak, Sumbawa, dan Mbojo. Salah satunya
adalah permasalahan yang tejadi yaitu aksi saling serang pendapat / cek-cok
antartokoh agama mengenai pemikiran tentang kebudayaan sasak.
(mejabahasa.wordpress.com). Maka bertepatan dengan tanggal 26 Desember 2015,
berkumpullah beberapa tokoh penting dari ketiga suku tersebut untuk mencetuskan
sebuah pernyataan sikap yang dikenal dengan Pembacaan Piagam Gumi
Sasak.
Saat itu
didaulatkan seorang tokoh sejarawan yang bernama Dr. Muhammad Fadjri yang
diberikan hak untuk membacakan Piagam Gumi Sasak. Ia didampingi oleh salah satu
tokoh sastrawan yaitu Murahim M.Pd sebagai pembawa piagam. Suasana penuh
khikmad pun semakin terjadi ketika dilantunkannya sebuah pernyataan yakni “Saya
ingin merdeka dengan kebudayaan saya sendiri” yang membuat orang-orang seisi
ruangan berdiri dan menangis karena terharu. Artinya, rasa bangga masyarakat,
dan tokoh-tokoh yang selama ini tidak mengenal dirinya sendiri akhirnya
menyadari bahwa inilah saatnya masyarakat sasak memilih jati dirinya yang
sebenarnya.
Banyak tokoh-tokoh masyarakat yang juga ikut terlibat pada saat itu. Terutama
diantaranya mereka yang bertanda tangan di dalam Piagam Gumi Sasak, seperti
ketua majelis adat Sasak yakni Drs. Lalu Bayu Windia, M.Si., tokoh akademisi
budayawan yakni Drs. H. Husni Mu’adz, MA., Ph.D., para tokoh sejarawan, salah
satunya seperti Dr. Muhammad Fadjri, M.A., para tokoh agama salah satunya yakni
TGH. Ahyar Abduh, dan masih banyak tokoh-tokoh masyarakat lainnya.
Peristiwa ini merupakan sebuah gerakan kebudayaan untuk menyatukan sikap
serta ketegasan budaya suatu suku untuk menangkal isu-isu miring mengenai suatu
budaya. Yang diharap dikemudian nanti bisa diikuti oleh masyarakat
kebudayaan lainnya seperi Jawa, Aceh, Sumatra dan lain sebagainya.
(mejabahasa.wordpress.com)
Berikut adalah isi naskah dari Piagam
Gumi Sasak :
PIAGAM
GUMI SASAK
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Menjadi bangsa
Sasak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT, dan
generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan matarantai
sejarah kemanusisaan, melalui simbol-simbol yang diletakkan kedalam pemikiran
bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Simbol-simbol itu
merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jati diri
yang sebenarnya.
Perjalanan
sejarah Bangsa Sasak diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai
bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran Budaya
Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jati diri
sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih
berlangsung hingga saat ini, melalui pencitraan Budaya dan Sejarah Bangsa yang
ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern.
Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi bangsa interior yang tak mampu tegak
di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakan amanat kefitrahannya
sebagai sebuah bangsa.
Sadar akan hal tersebut, kami
anak-anak bangsa Sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut:
Pertama :
Berjuang bersama menggali dan menegakan jati diri bangsa Sasak demi
kedaulatan dan kehormatan Budaya Sasak.
Kedua :
Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual
Bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian, kebenaran, kepatutan, dan keindahannya
sesuai dengan roh budaya Sasak.
Ketiga :
Berjuang bersama menegakan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya
kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung
tinggi nilai religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat :
Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak Baru dengan kejatidirian
yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima :
Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter,bersatu dan
berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan
kekuatan serta memberkahi perjalanan Bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh
umat manusia.
Mataram, 14 Mulut Tahun Jenawat /
1437 H
26 Desember 2015
Itulah isi naskah dari Piagam Gumi Sasak yang dibacakan oleh seorang tokoh sejarawan,
Dr. Muhammad Fadjri. Untuk lebih jelasnya, berikut video pembacaan Piagam Gumi
Sasak:
Lombok, 2017

sangat bermanfaat dan menambah wawasan
BalasHapusMantap, luar biasa.. Salam budaya..
BalasHapusSemoga bermanfaat postingnya ini.
BalasHapusTerbaik memang
Kapan dibuatnya kak piagam ini?
BalasHapusHari sabtu, 26 Desember 2015
BalasHapusterima kasih akhi,
BalasHapusartikel anda sangat inspiratif semoga bermanfaat bagi banyak orang... LANJUTKAN
Keren ya budaya sasak..
BalasHapusManatap.. lanjytkan tad
BalasHapusLuar biasa
BalasHapusOhh saya kira piagam gumi sasak ini hanya untuk suku sasa aja ternyata mbojo dan samawa juga masuk yaa
BalasHapusSalam budaya
BalasHapusWah luar biasa miminnya, langsung memberikan videonya. Dua jempol👍
BalasHapusSalam budaya!
Hapus