i/
Kelak kita akan
membaca puisi tentang kehilangan yang belum tentu tibanya. Engkau membacanya
dengan suara lantang, sedangkan aku tak ingin membaca selain ingin melihatmu
bahagia. Senyumanmu memberitahuku semua rahasia yang ada dalam nadimu. Suatu
saat jarimu tertusuk jarum ketika menjahit luka yang diberikan orang-orang
terdekatmu, disitulah aku akan membawakan obat merah dan kain kasa putih. Aku
tidak mau orang-orang mengetahui rahasia-rahasiamu. Hanya kamu, aku, dan
rahasia-kita.
ii/
Kelak kita
hanya akan merahasiakan satu rahasia yang sama. Tidak ada satu pun orang di
dunia mengetahui rahasia itu. sama
seperti puisi tentang kehilangan yang kaubaca dengan suara lantang sedangkan
aku tak ingin membaca selain ingin melihatmu bahagia. Di satu sisi aku tidak
ingin kau membaca puisi itu, di sisi lain aku tidak ingin kau tidak bahagia.
Itu bukanlah rahasia yang kita rahasiakan. Rahasia kita sama, sama-sama tidak
pernah dirahasiakan oleh orang lain, di dunia ini.
iii/
Kelak kita akan
mengikhlaskan sepi sebagai tamu yang datang kemudian pergi. Satu-satunya
pembicaraan yang diingat adalah “aku mampir hanya sebentar dan suatu saat aku
akan kembali lagi, mengunjungimu –entah kapan itu.” Setelah tamu itu keluar
dari rumah, kau akan menemukan kesedihan di balik pintu dan hendak membawanya
ke beranda. Aku hanya bisa memandangimu dari dalam ruang tamu sebagai sesuatu
yang dianggap asing. Kesepian adalah mata yang seakan memejamkan cahaya,
padahal ia abadi dalam dada masing-masing.
iv/
Kelak kita akan
menyiram kesepian sebagai tanaman yang subur dan menjalar sampai pagar ingatan.
Sesekali kesepian menjelma selimut yang menghangatkan ketika hujan rindu turun
pada malam hari. Pada awalnya, harapan sudah kutanam pada pundakmu. Aku
membiarkannya tersenyum sepanjang hari sampai engkau terlelap kemudian terjaga.
Namun itu tidak membuatmu bahagia kecuali kenangan akan hidup selamanya.
Sesuatu yang mustahil akan tetap menjadi sesuatu mustahil. Sedangkan misteri
adalah apa yang akan kita lakukan setelah saling meninggalkan. Kenapa? Ada yang
salah dengan kehilangan? Bukankah takdir adalah jendela; terbuka ketika pagi
dan tertutup menjelang malam? Dan aku yakin, selamanya, aku akan melihatmu
berjalan menjauhiku dari balik jendela.
v/
Kelak kita akan
sama-sama menemukan bintang di persimpangan hati masing-masing. Di mana aku
akan selalu berpura-pura menjadi petunjuk arah yang akan menuntun langkah
ragumu menuju akhir puisi kita. Sesaat setelah engkau berdandan di depan
cermin, pantulannya seakan menjelma bayanganku yang terlihat pasi, menyamar
sebagai bedak di bagian keningmu dan selalu menciumnya sampai upacara
perkawinanmu selesai. Jika dibayangkan, aku adalah tamu paling sepi dan matamu
tidak peduli. Tanpa engkau minta pun, hatiku akan menunggu dan selalu berpura-pura
menjadi petunjuk arah yang akan menuntun langkah ragumu menuju akhir puisi kita.
Pada akhirnya, aku hanya bisa mendengar suara lantangmu membacakan puisi
tentang kehilangan yang sudah tentu masanya, sedangkan aku tak ingin membaca
selain ingin melihatmu bahagia.
Lombok, 2018

Mantap bang nam
BalasHapus