Senin, 12 Februari 2018

KELAK



i/
Kelak kita akan membaca puisi tentang kehilangan yang belum tentu tibanya. Engkau membacanya dengan suara lantang, sedangkan aku tak ingin membaca selain ingin melihatmu bahagia. Senyumanmu memberitahuku semua rahasia yang ada dalam nadimu. Suatu saat jarimu tertusuk jarum ketika menjahit luka yang diberikan orang-orang terdekatmu, disitulah aku akan membawakan obat merah dan kain kasa putih. Aku tidak mau orang-orang mengetahui rahasia-rahasiamu. Hanya kamu, aku, dan rahasia-kita.

ii/
Kelak kita hanya akan merahasiakan satu rahasia yang sama. Tidak ada satu pun orang di dunia  mengetahui rahasia itu. sama seperti puisi tentang kehilangan yang kaubaca dengan suara lantang sedangkan aku tak ingin membaca selain ingin melihatmu bahagia. Di satu sisi aku tidak ingin kau membaca puisi itu, di sisi lain aku tidak ingin kau tidak bahagia. Itu bukanlah rahasia yang kita rahasiakan. Rahasia kita sama, sama-sama tidak pernah dirahasiakan oleh orang lain, di dunia ini.

iii/
Kelak kita akan mengikhlaskan sepi sebagai tamu yang datang kemudian pergi. Satu-satunya pembicaraan yang diingat adalah “aku mampir hanya sebentar dan suatu saat aku akan kembali lagi, mengunjungimu –entah kapan itu.” Setelah tamu itu keluar dari rumah, kau akan menemukan kesedihan di balik pintu dan hendak membawanya ke beranda. Aku hanya bisa memandangimu dari dalam ruang tamu sebagai sesuatu yang dianggap asing. Kesepian adalah mata yang seakan memejamkan cahaya, padahal ia abadi dalam dada masing-masing.

iv/
Kelak kita akan menyiram kesepian sebagai tanaman yang subur dan menjalar sampai pagar ingatan. Sesekali kesepian menjelma selimut yang menghangatkan ketika hujan rindu turun pada malam hari. Pada awalnya, harapan sudah kutanam pada pundakmu. Aku membiarkannya tersenyum sepanjang hari sampai engkau terlelap kemudian terjaga. Namun itu tidak membuatmu bahagia kecuali kenangan akan hidup selamanya. Sesuatu yang mustahil akan tetap menjadi sesuatu mustahil. Sedangkan misteri adalah apa yang akan kita lakukan setelah saling meninggalkan. Kenapa? Ada yang salah dengan kehilangan? Bukankah takdir adalah jendela; terbuka ketika pagi dan tertutup menjelang malam? Dan aku yakin, selamanya, aku akan melihatmu berjalan menjauhiku dari balik jendela.

v/
Kelak kita akan sama-sama menemukan bintang di persimpangan hati masing-masing. Di mana aku akan selalu berpura-pura menjadi petunjuk arah yang akan menuntun langkah ragumu menuju akhir puisi kita. Sesaat setelah engkau berdandan di depan cermin, pantulannya seakan menjelma bayanganku yang terlihat pasi, menyamar sebagai bedak di bagian keningmu dan selalu menciumnya sampai upacara perkawinanmu selesai. Jika dibayangkan, aku adalah tamu paling sepi dan matamu tidak peduli. Tanpa engkau minta pun, hatiku akan menunggu dan selalu berpura-pura menjadi petunjuk arah yang akan menuntun langkah ragumu menuju akhir puisi kita. Pada akhirnya, aku hanya bisa mendengar suara lantangmu membacakan puisi tentang kehilangan yang sudah tentu masanya, sedangkan aku tak ingin membaca selain ingin melihatmu bahagia.

Lombok, 2018



1 komentar: