Jika Anda mendengar kata Uma Lengge, pasti Anda
langsung mengingat kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Dari struktur bahasanya
saja, Uma Lengge adalah dua kata yang berakhiran huruf vokal, dan
pastinya itu adalah salah satu dari ciri-ciri sistem fonologi masyarakat
Kabupaten Kota Bima. Tapi, apakah Anda tahu, kenapa alasan masyarakat kabupaten
Bima membangun Uma Lengge? Jawabannya ada pada tulisan ini.
Secara bahasa, Uma Lengge berasal dari dua kata, Uma
dan Lengge. Uma berarti berarti rumah dan lengge berarti
mengerucut/pucuk yang menyilang.
Secara umum struktur uma lengge berbentuk kerucut
setinggi 5 - 7 m, bertiang 4 dari bahan kayu, beratap alang-alang yang
sekaligus menutupi tiga per empat bagian rumah sebagai dinding dan memiliki
pintu masuk dibagian bawah atap, terdiri atas atap rumah atau butu uma
yang terbuat dari alang-alang, langit-langit atau taja uma yang terbuat dari
kayu lontar, serta lantai tempat tinggal terbuat dari kayu pohon pinang atau
pohon kelapa. Pada bagian tiang rumah juga digunakan kayu sebagai penyanggah,
yang fungsinya sebagai penguat setiap tiang-tiang uma lengge.
(Pesonawisatabima.wordpress.com)
Secara
geografis uma lengge berlokasi di tiga tempat yaitu di Desa Maria
Kecamatan Wawo, Desa Mbawa Kecamatan Donggo dan Desa Sambori Kecamatan Lambitu.
Pada awalnya, Uma Lengge adalah rumah yang dijadikan
sebagai tempat tinggal bagi masyarakat Bima. Namun, dari waktu ke waktu,
masyarakat Bima memilih untuk tinggal di rumah yang lebih luas, yang dinamakan Uma
Panggu. Sampai pada akhirnya, Uma Lengge dijadikan lumbung padi
tentunya untuk menyimpan padi. Uma Lengge sudah ditempatkan dan
dikelompokkan jauh dari areal rumah penduduk. Hal ini dimaksud untuk menghindari
hal-hal yang tidak diinginkan, seperti ketika ada kebakaran atau bencana alam
lainnya. Bila rumah tempat tinggalnya terbakar maka masih ada uma lengge
sebagai lumbung yang menjadi hartanya atau sebaliknya.
Pertanyaannya sekarang adalah rata-rata, rumah, tempat
tinggal masyarakat Bima sudah tidak lagi berbentuk Uma Lengge atau
Uma Panggu lagi, melainkan rumah permanen, batu, dan bertingkat-tingkat.
Apakah itu sama saja dengan tidak melestarikan aset budaya masyarakat Bima?
Nah, sekarang, tugas kita sebagai anak bangsa yang terpelajar adalah menjaga,
melestarikan, dan mempertahankan aset budaya masyarakat Bima yang satu ini.
Silahkan,
bagi rekan-rekan yang ingin jalan-jalan ke Kabupaten Bima, jangan lupa mampir
di Uma Lengge sekedar melihat atau selfie agar aset budaya ini
tidak kalah dengan rumah Uy* atau acara TV lainnya.
Salam
Hormat.
Lombok,
2017

hebat postingannya, inspiratif banget…. Lanjutkan akhi
BalasHapusArtikelx bagus sekali.. Terima kasih infox..
BalasHapusTerimakasih atas infonya.. Sangat bermanfaat
BalasHapusmenambah wawasan👍
BalasHapusManjiw !
BalasHapusMari generasi muda bangkit.💪
BalasHapusMari generasi muda bangkit.💪
BalasHapusSama dgan berugak kan.
BalasHapusKeren, luar biasa.
BalasHapusKomentari :
BalasHapusSubhanallah informasi yg sangat bermanfaat bagi masyarakat, yg belum mengenal makna yg sesungguhnya dari hal ini
Subhanallah akhi
BalasHapusWaah dapat pengetahun lagi nih setelah baca. Ditunggu ya postingan selanjutnya
BalasHapusKalau di desa saya bukan uma lengge namanya tapi jompa. Sama seperti uma lengge juga jompa sebagai tempat untuk menyimpan padi.
BalasHapusapakah ada perbedaan antara uma lengge dengan jompa ?
Yang membuat beda adalah struktur bangunannya. Jompa tampak seperti berugaq, dan memang lumbung padi. Tapi uma lengge bentuknya lebih kerucut dan hanya ada di tiga daerah yang disebutkan di atas..
HapusKalo di Lombok namanya bale lumbung
BalasHapus