Senin, 01 Januari 2018

Uma Lengge : Bukan Sekedar Lumbung Padi


Jika Anda mendengar kata Uma Lengge, pasti Anda langsung mengingat kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Dari struktur bahasanya saja, Uma Lengge adalah dua kata yang berakhiran huruf vokal, dan pastinya itu adalah salah satu dari ciri-ciri sistem fonologi masyarakat Kabupaten Kota Bima. Tapi, apakah Anda tahu, kenapa alasan masyarakat kabupaten Bima membangun Uma Lengge? Jawabannya ada pada tulisan ini.
Secara bahasa, Uma Lengge berasal dari dua kata, Uma dan Lengge. Uma berarti berarti rumah dan lengge berarti mengerucut/pucuk yang menyilang.
Secara umum struktur uma lengge berbentuk kerucut setinggi 5 - 7 m, bertiang 4 dari bahan kayu, beratap alang-alang yang sekaligus menutupi tiga per empat bagian rumah sebagai dinding dan memiliki pintu masuk dibagian bawah atap, terdiri atas atap rumah atau butu uma yang terbuat dari alang-alang, langit-langit atau taja uma yang terbuat dari kayu lontar, serta lantai tempat tinggal terbuat dari kayu pohon pinang atau pohon kelapa. Pada bagian tiang rumah juga digunakan kayu sebagai penyanggah, yang fungsinya sebagai penguat setiap tiang-tiang uma lengge. (Pesonawisatabima.wordpress.com)
Secara geografis uma lengge berlokasi di tiga tempat yaitu di Desa Maria Kecamatan Wawo, Desa Mbawa Kecamatan Donggo dan Desa Sambori Kecamatan Lambitu.
Pada awalnya, Uma Lengge adalah rumah yang dijadikan sebagai tempat tinggal bagi masyarakat Bima. Namun, dari waktu ke waktu, masyarakat Bima memilih untuk tinggal di rumah yang lebih luas, yang dinamakan Uma Panggu. Sampai pada akhirnya, Uma Lengge dijadikan lumbung padi tentunya untuk menyimpan padi. Uma Lengge sudah ditempatkan dan dikelompokkan jauh dari areal rumah penduduk. Hal ini dimaksud untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti ketika ada kebakaran atau bencana alam lainnya. Bila rumah tempat tinggalnya terbakar maka masih ada uma lengge sebagai lumbung yang menjadi hartanya atau sebaliknya.
Pertanyaannya sekarang adalah rata-rata, rumah, tempat tinggal masyarakat Bima sudah tidak lagi berbentuk Uma Lengge  atau Uma Panggu lagi, melainkan rumah permanen, batu, dan bertingkat-tingkat. Apakah itu sama saja dengan tidak melestarikan aset budaya masyarakat Bima? Nah, sekarang, tugas kita sebagai anak bangsa yang terpelajar adalah menjaga, melestarikan, dan mempertahankan aset budaya masyarakat Bima yang satu ini.
Silahkan, bagi rekan-rekan yang ingin jalan-jalan ke Kabupaten Bima, jangan lupa mampir di Uma Lengge sekedar melihat atau selfie agar aset budaya ini tidak kalah dengan rumah Uy* atau acara TV lainnya.

Salam Hormat.

Lombok, 2017 

15 komentar:

  1. hebat postingannya, inspiratif banget…. Lanjutkan akhi

    BalasHapus
  2. Artikelx bagus sekali.. Terima kasih infox..

    BalasHapus
  3. Terimakasih atas infonya.. Sangat bermanfaat

    BalasHapus
  4. Mari generasi muda bangkit.💪

    BalasHapus
  5. Mari generasi muda bangkit.💪

    BalasHapus
  6. Komentari :
    Subhanallah informasi yg sangat bermanfaat bagi masyarakat, yg belum mengenal makna yg sesungguhnya dari hal ini

    BalasHapus
  7. Waah dapat pengetahun lagi nih setelah baca. Ditunggu ya postingan selanjutnya

    BalasHapus
  8. Kalau di desa saya bukan uma lengge namanya tapi jompa. Sama seperti uma lengge juga jompa sebagai tempat untuk menyimpan padi.
    apakah ada perbedaan antara uma lengge dengan jompa ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang membuat beda adalah struktur bangunannya. Jompa tampak seperti berugaq, dan memang lumbung padi. Tapi uma lengge bentuknya lebih kerucut dan hanya ada di tiga daerah yang disebutkan di atas..

      Hapus
  9. Kalo di Lombok namanya bale lumbung

    BalasHapus