Namaku air mata. Aku diciptakan tidak hanya untuk mereka yang patah hati. Orang yang bahagiapun akan senantiasa berjumpa denganku. Namun, satu hal yang perlu kamu tahu,"Aku sedang sibuk mencari rumah baru."
Ini adalah perjalananku, pengalamanku, dan kenanganku. Perjalanan mencari hati yang sedang dilanda rindu. Pengalaman bersama pemilik hati yang pernah kusinggahi dulu. Dan kenangan bersama mereka yang terluka namun tak pernah tertancap sembilu.
Namaku air mata. Aku diciptakan bersama debar yang sering diabaikan. Terlampau resah atas penantian yang tak tahu entah. Bermewah-mewah dengan luka yang paling kaya raya. Aku hanya partikel air, tak berwujud syahdu, hanya mengerti bagaimana menikmati pilu. Dalam kamusku, bahagia berkecukupan, terluka keseringan.
Terkasih.
Namaku air mata. Dan masih bernama air mata. Nama membuatku abadi. Aku tidak terlalu setuju dengan Shakespeare,"Apalah arti dari sebuah nama." Bagiku sangat berarti. Tanpa nama, aku hanya tetesan air tak menyegarkan. Jikalau aku tumbuh menjadi tanaman, pastinya aku adalah bunga yang tidak diinginkan. Namaku air mata. Tanpa air dan tanpa mata, aku tidak ada.
Ini adalah kisahku dengan kekasihku. Kisah dengan kekasih. Aih, terlalu melankolis jika diceritakan di kala gerimis. Iya, sekarang sedang gerimis. Aku suka gerimis, aku suka hujan. Namun aku tidak akan bercerita tentang hujan. Ini adalah kisah kasihku. Namanya Bougenville. Sengaja aku samarkan dengan nama bunga. Kenapa harus Bougenville? Sebab, ia adalah lambang kekayaan dan kebahagiaan. Dulu, bersamanya, aku kaya, aku bahagia. Namun, aku hanyalah air mata. Baginya, aku adalah aib, ia merasa malu bersamaku. Barangkali, cinta itu bunga. Juga perlu air mata agar bisa tumbuh. Jangan kebanyakan, nanti bisa busuk.
Namaku air mata. Itu kisah kasihku. Bukan kisah yang biasa jika
dinikmati bersama secangkir kopi yang pahit. Kisah yang miris, hati yang
teriris. Namaku air mata. Aku adalah air pada kelopak mata. Kelopak
yang insom setiap malam; Meratapi kenangan-kenangan kelam, dan berpesta
bersama rasa kecewa paling lebam.
Terima kasih.
Namaku air mata. Dan selalu menjadi air mata. Diantara rasa sakit yang selama ini pernah kurasa, darimulah aku merasa patah yang benar-benar patah. Sakit yang benar-benar sakit. Luka yang benar-benar luka. Dan air mata paling deras diikuti dengan ucapan,"Setelah kepergianmu, air mataku sibuk mencari rumah baru."
Lombok, 2017
Terima kasih.
Namaku air mata. Dan selalu menjadi air mata. Diantara rasa sakit yang selama ini pernah kurasa, darimulah aku merasa patah yang benar-benar patah. Sakit yang benar-benar sakit. Luka yang benar-benar luka. Dan air mata paling deras diikuti dengan ucapan,"Setelah kepergianmu, air mataku sibuk mencari rumah baru."
Lombok, 2017
😻😻
BalasHapusCie cie
HapusNice.
BalasHapus