Kamis, 14 September 2017

KAPAN KAMU PUTUS?


Tulisan ini didedikasikan untuk orang-orang yang sedang dalam masa-masa galau (baca: baru saja putus). Entah kalian yang minta putus atau diputusin. Intinya, akan ada banyak kata putus dan patah hati pada tulisan ini.

Teruntuk kamu yang putus pada pagi hari.

Pagi itu rejeki, bagi manusia; yang patah hati ataupun yang jatuh cinta. Kata orang, rejeki sudah ada yang atur. Dan pagi adalah waktu dibaginya rejeki. Sekarang aku akan sedikit bertanya. Kenapa hanya sedikit? Sebab, terlalu banyak juga hanya membuat hati kamu semakin sakit. "Bukankah terlalu pagi untuk bersedih memikirkan cinta yang telah pergi?" Kembali lagi, padahal rejeki sudah ada yang atur. Tapi kenapa masih saja ada hati yang belum akur?
Begini saja, segera mandi, pakailah wewangian 'pura-pura' agar terlihat lebih elegan ketika kamu menutupi duka. Sisirlah rambutmu dengan sisir warna biru. Sebab, warna hitam terlalu kelam bagi hati yang dirundung pilu. Berangkatlah ke sekolah dengan senyum palsu dibalut dengan raut bahagia yang dipura-purakan. Ranselmu juga jangan terlalu berat, isi dengan buku pelajaran bukan dengan lembaran-lembaran kenangan. Atau ikuti saranku, kosongkan ranselmu. Isi dengan senyuman orang-orang terdekatmu di sekolah, bawa pulang dan biarkan ia berserakan di kamarmu. Berbaurlah. Paling tidak, ajak bicara teman sebangkumu. Beritahu dia, bukan kamu satu-satunya yang sedang patah hati. Barangkali dia sama sepertimu juga. Aktif bertanya kepada guru salah satu cara menutupi luka. Biarkan ia menjawab segala pertanyaanmu. Jangan terlalu berlebihan bertanya, atau kamu akan dikhawatirkan perihal hatimu sedang terluka. Sembunyikan luka, tunjukan tawa, sampai menjelang sayang. Eh, siang.

Terkhusus kamu yang putus pada siang hari.

Tidak ada siang yang tidak panas. Namun siang beda dengan sayang. Tidak ada sayang yang benar-benar sayang. Jika sayang, kenapa pergi meninggalkan? Jika sayang, kenapa menanggalkan kepemilikan? Jika sayang, kenapa harus ada kata pisah atau istilah 'putus lainnya'? Takkan habis pertanyaan 'jika sayang, kenapa...' kecuali ada yang benar-benar sayang. Kembali lagi, tak ada sayang yang benar-benar sayang.
Putus pada siang hari tidak begitu nikmat. Buktinya, yang harusnya coklat berasa coklat, tapi ketika dimakan, terasa pahit dan agak melekat. Artinya tidak ada putus yang mengenakkan. Yang putus, pasti akan sakit hati, bukan sakit gigi. Ini putus, pisah, bukan makan permen loli. Namun ada beberapa hal yang serupa antara sakit gigi dan sakit hati. Sakit gigi, tak enak makan, tak enak tidur. Sakit hati, sama, tak enak makan, juga tak enak tidur. Segala sesuatu yang dilakukan orang yang sakit hati (baca: patah hati) semua tidak enak, tidak masuk akal dan tidak kesemuanya yang tidak-tidak. Singkatnya, logika umum tidak berlaku kepada orang yang sedang patah hati.

Hanya untuk kamu yang putus menjelang petang.

Apa yang tersirat di pikiranmu ketika mendengar kata petang? Ya, senja. Itu yang ada di pikiranku, sekarang. Senja itu sendu. Sendu itu manja. Manja itu bahagia. Tapi tidak bagi hati yang baru saja putus. Namun, sungguh, senja itu indah. Lebih indah dari apapun selain jatuh cinta. Bahkan sama indahnya. Artinya, senja sangat serasi dengan orang yang jatuh cinta, bukan yang patah hati. Benarkah?
Buat yang sedang patah hati, jangan terlalu bersedih. Senja diciptakan tidak hanya untuk yang jatuh cinta. Menyaksikan senja adalah hak segala bangsa. Bangsa yang patah hati terutama. Hiburlah hati kalian. Jangan terlalu larut dengan kesedihanmu, senja menantimu. Ia tak pernah ingkar janji, selalu tepat waktu. Toh, ia hadir hanya sebentar saja. Ayolah, bercumbulah dengannya, peluk cahaya jingganya, suruh ia menghapus dukamu melalui punggung cakrawala. Sementara, lupakan ia yang akan pergi. Senja juga akan pergi, tapi kamu dapat berjumpa ia kembali. Sedangkan ia? Pergi, dan tak tahu jalan kembali. Senja adalah yang paling setia. Seperti senja, carilah yang setia. Jika tidak bisa, jadilah yang setia.

Terakhir, kamu yang putus ketika datang waktu malam.

Ah, tulisan ini semakin tidak menarik saja. Dilanjutkan atau tidak? Atau dicukupkan sampai disini? Sepertinya sangat tanggung jika tidak diteruskan. Baiklah, aku akan memulai dengan satu opini, malam identik dengan rindu. Oh, lagi-lagi rindu. Bukan masalah terlalu sering berbicara tentang rindu. Namun, demi menyelesaikan tulisan ini, dibutuhkan beberapa wacana tentang rindu. Kembali ke malam. Malam adalah waktu yang tepat untuk memanjakan rindu, bagi yang patah hati, apalagi.
Baik itu pagi, siang, petang, ataupun malam, tidak ada putus yang enak. Barangkali dengan merindu bisa membuatmu sedikit tenang. Ingat, hanya sedikit.Tidak ada seorangpun di dunia ini yang cepat melupakan. Semua butuh proses. Baik itu waktu yang akan menyembuhkan, ataupun kamu akan kembali menemukan. Singkatnya, tidak ada luka yang dapat sembuh dengan sendirinya. Semakin larut, semakin lukamu terbalut. Uh..

Sekian. Akan kuakhiri tulisan ini dengan ucapan,"Ikhlaskan! Kamu tidak patah hati sendirian!"

Lombok, 2017


0 komentar:

Posting Komentar