Jumat, 14 Juli 2017

Ada yang salah, ada yang meminta maaf

Ada yang salah, ada yang meminta maaf.

Segala sesuatu tidak pernah diciptakan bersamaan; sama seperti alasan untuk pergi tanpa alasan, atau rindu yang tak kunjung redam oleh perasaan. Kita-pun pernah seperti itu; pulang tak pernah kau izinkan, sedangkan pergi adalah mau yang aku ungkap lewat ucapan,"aku memang salah, harusnya aku tidak pernah mencintaimu sebelumnya."

Aku yang salah, aku yang meminta maaf.

Aku masih ingat, namamu aku terjemahkan menjadi tanah liat. Namun disitu kan bahagia yang sedang kau lihat? Masih ingat, atau begitu saja lewat? Saat itu, kita adalah sepasang bibir yang mencium dengan cepat, sedangkan usia kita masih belum cukup untuk berbuat. Siapa yang salah? Aku! "Harusnya aku tidak membiarkanmu mencintaiku sebelumnya."

Kamu yang salah, kamu yang meminta maaf.

Tiba-tiba rindumu menjelma kesunyian. Dimana puisi menjadi satu-satunya jalan, dan perih mulai menjalar lewat ingatan. Ungkapmu,"Aku tidak pernah cinta, aku hanya kagum. Cinta adalah kesalahan yang benar-benar salah, dan kagum juga kesalahan jika pada orang yang salah." Berpulanglah air mata ke tempat asalnya, berpalinglah hati pada tempat muasalnya.

Kita yang salah, kita yang meminta maaf.

Akhirnya kita seperti ini. Tidak saling menyapa, tapi sibuk bertanya sedang apa. Tidak saling menatap, tapi sibuk meratap. Tidak saling mencinta, tapi sibuk meminta-minta. Sedang rindu tahu tempat berpulang, namun hati tak juga ingin berpaling. Dan maaf menjelma abadi dalam ingatan semesta-kita-air mata.

Lombok, 2017

0 komentar:

Posting Komentar