Minggu, 31 Desember 2017

Nyongkolan, Apa itu?

Menurut saya, budaya Nyongkolan sendiri sangatlah menarik. Pertama kali menginjakkan kaki di Negeri Seribu Masjid ini, saya merasakan sesuatu yang berbeda ketika melihat khalayak berjalan mengiringi seseorang yang didandan sedemikian gagah diikuti dengan berpuluh-puluh orang berpakaian adat, beberapa juga berseragam hitam dan mengenakan ikat kepala yang setelah lama saya mengetahuinya itu adalah Sapuq, dan di barisan paling belakang ada organ tunggal yang dengan dua orang biduan menyanyi dan suaranya hampir tidak terdengar karena volume musiknya lebih besar dan menggelegar. Yang menarik lagi adalah ada beberapa orang membawa gendang berukuran besar, berjalan rapi diiringi dengan peniup seruling yang suaranya merdu. Sangking penasarannya, saya bertanya-tanya, “Kenapa di daerah saya tidak ada budaya seperti ini, ya?”.    
Buat yang belum tahu, Nyongkolan adalah sebuah kegiatan adat yang menyertai rangkaian acara dalam prosesi perkawinan pada suku sasak di Lombok. Kegiatan ini berupa iring-iringan kedua mempelai dari rumah mempelai pria ke rumah mempelai wanita, dengan diiringi keluarga dan kerabat mempelai pria, memakai baju adat, serta rombongan musik yang bisa gamelan atau kelompok penabuh rebana, atau disertai Gendang beleq pada kalangan bangsawan. Dalam pelaksanaannya, karena faktor jarak, maka prosesi ini tidak dilakukan secara harfiah, tetapi biasanya rombongan mulai berjalan dari jarak 1-0,5 km dari rumah mempelai wanita. Tujuan dari prosesi ini adalah untuk memperkenalkan pasangan mempelai tersebut ke masyarakat, terutama pada kalangan kerabat maupun masyarakat dimana mempelai perempuan tinggal, karena biasanya seluruh rangkaian acara pernikahan dilaksanakan di pihak mempelai laki-laki. (Wikipedia)


Youtube Channel : Galuh Rizqi Novelia

Setelah mengetahui nyongkolan adalah sebuah adat budaya yang dimilik masyarakat sasak yang sangat menarik, saya semakin kagum dengan semua adat dan budaya yang ada di Indonesia terutama di Nusa Tenggara Barat. Di mana, sebagai warga NTB sendiri, saya merasa bangga dengan adat dan budaya yang ada di dalamnya. Lalu, apakah adat dan budaya akan bertahan sampai kita tua? Tugas kita sekarang adalah mempertahankan semua adat dan budaya tanpa harus mengurangi nilai dari para leluhur kita. Kenapa harus seperti itu? Jawaban yang tepat adalah karena makin ke sini adat dan budaya, tradiri kita semakin bergeser dari yang apa yang sudah ditinggalkan oleh nenek moyang kita. Kita ambil contoh saja, now a day, Budaya Nyongkolan bukan lagi tradisi yang bertujuan untuk menghormati kedua mempelai karena akan menyempurnakan setengah dari agama mereka, akan tetapi ajang untuk mabuk, senang-senang atau hal negatif lainnya oleh oknum masyarakat tertentu. Tugas kita sebagai pemuda bangsa yang terpelajar adalah meluruskan pandangan orang-orang terhadap budaya kita yang sudah dianggap buruk. Mulailah dari hal-hal yang paling kecil, seperti membagikan kiriman ini, atau memberi komentar positif demi mempertahankan adat dan budaya kita.

SAYA BANGGA MENJADI MASYARAKAT NTB!!!

Lombok, 2017

20 komentar:

  1. Terima kasih postingan yg sangat bermanfaat dan menambah wawasan 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Luar biasa. Baca juga tuh tulisan lainnya di blogku..

      Hapus
  2. Awal-awalnya kayak lagi baca tahap orientasi novel, tapi basicly itu bikin blognya nyenengin dan esensi nyongkolannya tdk hilang, good job

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengaruh besarnya karena ini blog pribadi. Dulunya, ini diary onlineku. Beberapa tulisan juga berisikan curhat gitu. Over all, keren..

      Hapus
  3. jazakallah khir atas artikelnya, bagus dan bermanfaat Akhi ...

    BalasHapus
  4. Terimakasi infonya... sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  5. Semoga tradisi nyongkolan bisa kembali ke tujuan awalnya, dan tata cara nyongkolan juga kembali seperti yg seharusnya.

    BalasHapus
  6. Tp nyongkolan ada sisi buruknya juga, kadang bikin macet total😂

    BalasHapus
  7. Sekarang juga nyongkolan udah ngga kyk dulu, udah jd ajang mabuk-mabukan juga sekarang yg pake gendang beleq udah jarang, sekarang kebanyakan pake kecimol dan itu udah keluar dari budaya sasak😟

    BalasHapus