Menurut saya, budaya Nyongkolan
sendiri sangatlah menarik. Pertama kali menginjakkan kaki di Negeri Seribu
Masjid ini, saya merasakan sesuatu yang berbeda ketika melihat khalayak
berjalan mengiringi seseorang yang didandan sedemikian gagah diikuti dengan
berpuluh-puluh orang berpakaian adat, beberapa juga berseragam hitam dan
mengenakan ikat kepala yang setelah lama saya mengetahuinya itu adalah Sapuq, dan di
barisan paling belakang ada organ tunggal yang dengan dua orang biduan menyanyi
dan suaranya hampir tidak terdengar karena volume musiknya lebih besar dan
menggelegar. Yang menarik lagi adalah ada beberapa orang membawa gendang
berukuran besar, berjalan rapi diiringi dengan peniup seruling yang suaranya
merdu. Sangking penasarannya, saya bertanya-tanya, “Kenapa di daerah saya tidak
ada budaya seperti ini, ya?”.
Buat yang belum tahu, Nyongkolan
adalah sebuah kegiatan adat yang menyertai rangkaian acara dalam prosesi
perkawinan pada suku sasak di Lombok. Kegiatan ini berupa iring-iringan kedua
mempelai dari rumah mempelai pria ke rumah mempelai wanita, dengan diiringi
keluarga dan kerabat mempelai pria, memakai baju adat, serta rombongan musik
yang bisa gamelan atau kelompok penabuh rebana, atau disertai Gendang
beleq pada kalangan bangsawan. Dalam pelaksanaannya, karena faktor jarak,
maka prosesi ini tidak dilakukan secara harfiah, tetapi biasanya rombongan
mulai berjalan dari jarak 1-0,5 km dari rumah mempelai wanita. Tujuan dari
prosesi ini adalah untuk memperkenalkan pasangan mempelai tersebut ke
masyarakat, terutama pada kalangan kerabat maupun masyarakat dimana mempelai
perempuan tinggal, karena biasanya seluruh rangkaian acara pernikahan
dilaksanakan di pihak mempelai laki-laki. (Wikipedia)
Youtube
Channel : Galuh
Rizqi Novelia
Setelah mengetahui nyongkolan adalah sebuah adat budaya yang
dimilik masyarakat sasak yang sangat menarik, saya semakin kagum dengan semua
adat dan budaya yang ada di Indonesia terutama di Nusa Tenggara Barat. Di mana,
sebagai warga NTB sendiri, saya merasa bangga dengan adat dan budaya yang ada
di dalamnya. Lalu, apakah adat dan budaya akan bertahan sampai kita tua? Tugas
kita sekarang adalah mempertahankan semua adat dan budaya tanpa harus
mengurangi nilai dari para leluhur kita. Kenapa harus seperti itu? Jawaban yang
tepat adalah karena makin
ke sini adat dan budaya, tradiri kita semakin bergeser dari yang apa yang
sudah ditinggalkan oleh nenek moyang kita. Kita ambil contoh saja, now a day, Budaya
Nyongkolan bukan lagi tradisi yang bertujuan untuk menghormati kedua mempelai
karena akan menyempurnakan setengah dari agama mereka, akan tetapi ajang untuk
mabuk, senang-senang atau hal negatif lainnya oleh oknum masyarakat tertentu.
Tugas kita sebagai pemuda bangsa yang terpelajar adalah meluruskan pandangan
orang-orang terhadap budaya kita yang sudah dianggap buruk. Mulailah dari
hal-hal yang paling kecil, seperti membagikan kiriman ini, atau memberi
komentar positif demi mempertahankan adat dan budaya kita.
SAYA
BANGGA MENJADI MASYARAKAT NTB!!!
Terima kasih postingan yg sangat bermanfaat dan menambah wawasan 🙏
BalasHapusLuar biasa. Baca juga tuh tulisan lainnya di blogku..
HapusAwal-awalnya kayak lagi baca tahap orientasi novel, tapi basicly itu bikin blognya nyenengin dan esensi nyongkolannya tdk hilang, good job
BalasHapusPengaruh besarnya karena ini blog pribadi. Dulunya, ini diary onlineku. Beberapa tulisan juga berisikan curhat gitu. Over all, keren..
HapusIzin share👍
BalasHapusPostingannya bagus, menambah wawasan.
BalasHapusHilih.. Formalitas!
HapusApa ini nyongkolan??
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusjazakallah khir atas artikelnya, bagus dan bermanfaat Akhi ...
BalasHapusMasyaalloh.. Inikah yang dinamakan formalitas?
HapusTerimakasi infonya... sangat bermanfaat.
BalasHapusInformasi yang luar biasa.Mantap
BalasHapusSemoga tradisi nyongkolan bisa kembali ke tujuan awalnya, dan tata cara nyongkolan juga kembali seperti yg seharusnya.
BalasHapusLuar biasa
BalasHapusTp nyongkolan ada sisi buruknya juga, kadang bikin macet total😂
BalasHapusSekarang juga nyongkolan udah ngga kyk dulu, udah jd ajang mabuk-mabukan juga sekarang yg pake gendang beleq udah jarang, sekarang kebanyakan pake kecimol dan itu udah keluar dari budaya sasak😟
BalasHapusTugas kita adalah meluruskan itu semua.
Hapus