Langit malam kubelah; mencari celah
diantara rimbunan titik yang berpendar, wajahmu tergurat paling benderang
aku menggelayut manja, tak lepas memandang
kemudian tersadar, bingkai jendela yang bisu ini tak mampu berkata: aku bukan lengan kokohnya..
lantas angin berbisik; mengusik
kudukku meremang
ia meledekku, katanya jilatan basahmu lebih berisik
aku merengut,
padahal tersipu..
kali ini aku berhak marah pada malam
yang buai mimpi, sekaligus yang sadis membenamnya, setelah sebelumnya dirumpangkan; tak lagi jelas berbentuk..
bahkan tak disisakannya aku sedikit-pun desah merdumu
seharusnya kenyataan tau, saat yg paling romantis adalah ketika memandang seorang kekasih yang sedang terlelap..
03-10-2014
~Naa
Jumat, 06 Mei 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar