Nah, disini gue bakal bahas tentang 'Putus'. Tapi, putus bukan sembarang putus.. *Cakep...!* Nahh loh?!
Sebenarnya ini tugas mata kuliah Pengantar Filsafat. Mata kuliah yang paling bikin pusing. Yang awalnya jenius, tiba-tiba amnesia. Yang awalnya jomblo, tiba-tiba punya pacar. *nah, ini ngarep*. Tapi beneran ini mata kuliah yang paling NGESELIN. Kenapa ngeselinnya gue tulis pake huruf kapital? Ya karena capslocknya aktif, coy!!! Tapi beneran ngeselin. Si Dosen
Klo nggak percaya si dosen ini ngeselin. Coba perhatiin soal yang diberi sama dosen ini : *Cekibrooot*
Jika anda dihadapkan dengan suatu masalah atau diminta untuk menjawab suatu persoalan, apakah yang anda lakukan untuk memberikan jawaban yang tepat menurut pendekatan filsafat. Kemukan suatu persoalan yang menurut anda merupakan masalah mendasar mengenai kemanusiaan yang berkembang saat ini.
Tulislah jawaban anda dengan sistematika sebagai berikut :
a. Permasalah menurut pandangan anda.
b. Obyek material dan obyek formal dari permasalah yang
anda angkat.
c. Pembahasan ontologis obyek formal yang anda angkat.
d. Asumsi epitimologis yang anda gunakan dalam membahas
obyek formal yang anda angkat.
e. Konsep aksiologis dari pemikiran yang anda tawarkan
sebagai solusi terhadap masalah yang anda angkat.
Bingung kan? Yang belum pernah belajar filsafat mungkin akan bunuh diri setelah membaca soal diatas. Tapi, sebagai mahasiswa yang cerdas. Dengan tingkatan intelektual yang tinggi dan diakui negara lain, gue membahasnya satu per satu. Inilah jawaban gue...
a.
Masalah adalah
suatu keadaan dimana harapan tidak sesuai dengan kenyataan dan realita. Jadi,
permasalahan adalah suatu ruang yang ada diantara kenyataan dan harapan yang
pada akhirnya menimbulkan beberapa persoalan. Contoh kecilnya seperti ini,
orang-orang ingin menjadi kaya. Namun, karena harapan mereka untuk menjadi kaya
tidak sampai, akhirnya mereka jatuh miskin. Dan kemiskinan ini adalah sebuah
masalah. Sama halnya dengan masalah yang saya angkat sekarang, yaitu ‘putus
dalam pacaran’. Harapan orang-orang yang menjalankan hubungan asmara (baca:
pacaran) adalah bahagia selamanya (katanya sih gitu). Namun karena ada beberapa
hal yang terjadi sehingga mereka tidak bisa melanjutkan hubungan tersebut
akhirnya mereka ‘putus’. Nah, putus ini adalah masalah. dan sekarang saya akan
memaparkannya dengan pendekatan filsafat.
b.
Obyek material
permasalahan ini adalah putus itu pasti terjadi, artinya putus itu ada dan
sudah menjadi hal yang biasa jika dalam sebuah hubungan itu diakhiri dengan
kalimat ‘kita putus!’. Bahkan yang terjadi sekarang pun ada beberapa pasangan
yang sudah putus, namun bisa menyatu kembali. Atau istilah yang biasa dipakai
adalah ‘putus-nyambung’. Tapi, menurut saya itu sangat tidak masul akal, karena
jika sudah putus, ya harusnya putus; tidak nyambung
kembali. karena ada istilah keren mengatakan “Balikan sama mantan itu seperti membaca buku dua kali, endingnya pasti
sama.” (Ini kata mantan gue, emang dia orang manis terkampret... hu hu hu)
Obyek formal dari permasalah ‘putus dalam pacaran’ atau ‘putus
setelah pacaran’ adalah hilangnya tujuan dari pacaran itu sendiri,
membahagiakan satu sama lain. Sekarang orang-orang yang pacaran terutama ABG yang
masih labil (baca: ABABIL) beranggapan bahwa pacaran hanyalah kesenangan
semata, tidak mengandung essensi atau hanya sebuah progress bagi mereka. Jadi,
bagi mereka pacaran hanyalah proses untuk putus. Tidak lebih.(Ceileh...!) :v
c.
Pembahasan ontologis adalah pembahasan mengenai
hakikat atau substansi dari masalah itu sendiri. Adapun uraian hakikat dari
putus dalam pacaran adalah tidak kesesuaian antara orang yang menjalankan
hubungan asmara ini dengan apa yang mereka lakukan tersebut. Dengan kata lain,
sebenarnya mereka belum siap untuk pacaran, namun karena berawal dari rasa penasaran
akhirnya mereka mencoba untuk melakukan itu. Dengan berbagai macam proses yang
dilalui akhirnya mereka bisa pacaran. Setelah beberapa lama, akhirnya mereka
putus karena ada beberapa hal yang menghambat hubungan mereka. Sampai pada
akhirnya mereka patah hati dan galau. Segala macam persoalan hidup sangatlah
memberatkan mereka setelah mereka putus. Dari sinilah ada berita atau kasus
‘bunuh diri karena diputusin pacar. Itulah substansi dari permasalahan ini.
Pesan moral yang bisa diambil dari hakikat atau substansi permasalahan ini
adalah “Jangan bermain api jika takut terbakar”.*Pesan Moral, nih...
d.
Asumsi epistomologis yang digunakan untuk membahas permasalah ini adalah dengan
pemikiran filsafat. Menggunakan paradigma yang logis, dengan metode pendekatan
filsafat dan benar secara nalar. Pada obyek formal tadi sudah dijelaskan bahwa
tujuan dari pacaran adalah membahagiakan satu sama lain. Sekarang
pertanyaannya, siapkah untuk membahagiakan satu sama lain dengan menggunakan
cara masing-masing? Mungkin, cara orang untuk meraih kebahagiaan atau membuat
orang lain bahagia itu ada banyak. Ada yang harus merelakan dirinya supaya
orang lain bahagia, ada juga yang harus mengorbankan orang lain untuk
kesenangan dia semata. Nah, sekarang tinggal menentukan bagaimana cara kita dan
orang lain bisa bahagia dalam waktu yang bersamaan? Jawabannya mudah, kembali
kepada pribadi orang yang menjalankan hubungan asmara tersebut. Jadi, pacaran
bukan semata-mata proses untuk putus. Tapi proses untuk bahagia bersama
pasangannya. Melalui suka dan duka bersama-sama.
e.
Konsep aksiologis
yang saya tawarkan sebagai solusi terhadap permasalahan ‘putus dalam pacaran’
ada beberapa yang akan saya sebutkan disini. Yang pertama, jika ingin
pacaran, anda harus menyiapkan diri terlebih dahulu. Baik itu siap secara
mental, fisik terutama financial. Kenapa harus siap secara finansial? Sekarang
kita hidup di zaman yang serba bayar dan bayarnya harus menggunakan uang.
Lebih-lebih segala macam barang yang begitu mahal. Untuk keperluan pribadi
mungkin bisa diakhirkan. Sekarang bagaimana kebutuhan pacar bisa terpenuhi
karena itu adalah sebuah konsekuensi dalam pacaran. Karena ada juga alasan
putus adalah salah satu dari mereka tidak bisa memenuhi apa yang diinginkan
yang lain. Kurang lebihnya seperti itu. Yang kedua, jangan beranggapan
bahwa putus itu hanya terjadi pada orang yang pacaran saja. Yang perlu digaris
bawahi adalah perceraian juga bisa dikatakan dengan putus. Sekarang begini,
kita akan menggunakan analogi sederhana, orang yang sudah menikah, yang
notabenenya sudah terikat dengan janji perkawinan dan ini bukanlah sesuatu yang
main-main, bisa saja mereka bercerai, apalagi pacaran yang hanya menggunakan
kalimat ‘aku cinta kamu’ kemudian statusnya menjadi pacaran lalu kemudian tidak
mau putus? Jangan beranggapan seperti itu. Maka, sangat beruntunglah orang yang
pacaran kemudian sampai mereka menikah dan tidak bercerai sampai salah satu
dari mereka meninggalkan yang lainnya terlebih dahulu. *Wush... Niup poni*
Gimana dengan jawaban gue? Keren kan? So pasti keren bgt!!!
Itulah cara gue klo ngerjain tugas kampus. Nulis seenak mainin udhel. Tanpa harus nanya Gugel. Atau nanya Yahoo. Ya, karena gue adalah mahasiswa cerdas dengan tingkat intelektual yang tinggi serta diakui oleh negara lain, suka melolong, rajin menabung (hutang), dan paling sering ditinggalin cewek.. *MEWEK*
Dan kalian tau berapa nilai gue di mata kuliah ini? CONGRATULATION, GUE DAPAT C ...!!!
Dan kalian tau berapa nilai gue di mata kuliah ini? CONGRATULATION, GUE DAPAT C ...!!!
#KAMPREEEETTTTTTTT
-Nam-
*Foto dari Google*

jempol
BalasHapusJempol tangan atau jempol kaki nih?
Hapus