Sabtu, 20 Februari 2016

Putus! (Ala Filosofi Nam)

Hallo guys... Keif haal...? Masih jomblo, atau udah mendingan..? :v

Nah, disini gue bakal bahas tentang 'Putus'. Tapi, putus bukan sembarang putus.. *Cakep...!* Nahh loh?!
Sebenarnya ini tugas mata kuliah Pengantar Filsafat. Mata kuliah yang paling bikin pusing. Yang awalnya jenius, tiba-tiba amnesia. Yang awalnya jomblo, tiba-tiba punya pacar. *nah, ini ngarep*. Tapi beneran ini mata kuliah yang paling NGESELIN. Kenapa ngeselinnya gue tulis pake huruf kapital? Ya karena capslocknya aktif, coy!!! Tapi beneran ngeselin. Si Dosen Kampret ini, dia ngejelasin materi, tapi dia sendiri yang paham. Tanpa memikirkan kepala mahasiswa yang hampir putus, saking nggak bisanya nerima materi ini. Padahal, nyokap gue pernah bilang gini, "Hidup jangan terlalu mentingin materi." Nyokap gue memang super.. *apaan sih?!*

Klo nggak percaya si dosen ini ngeselin. Coba perhatiin soal yang diberi sama dosen ini : *Cekibrooot*


Jika anda dihadapkan dengan suatu masalah atau diminta untuk menjawab suatu persoalan, apakah yang anda lakukan untuk memberikan jawaban yang tepat menurut pendekatan filsafat. Kemukan suatu persoalan yang menurut anda merupakan masalah mendasar mengenai kemanusiaan yang berkembang saat ini.

Tulislah jawaban anda dengan sistematika sebagai berikut : 



a. Permasalah menurut pandangan anda.
b. Obyek material dan obyek formal dari permasalah yang anda angkat.
c. Pembahasan ontologis obyek formal yang anda angkat.
d. Asumsi epitimologis yang anda gunakan dalam membahas obyek formal yang anda angkat.
e. Konsep aksiologis dari pemikiran yang anda tawarkan sebagai solusi terhadap masalah yang anda angkat.

Bingung kan? Yang belum pernah belajar filsafat mungkin akan bunuh diri setelah membaca soal diatas. Tapi, sebagai mahasiswa yang cerdas. Dengan tingkatan intelektual yang tinggi dan diakui negara lain, gue membahasnya satu per satu. Inilah jawaban gue...  



a.       Masalah adalah suatu keadaan dimana harapan tidak sesuai dengan kenyataan dan realita. Jadi, permasalahan adalah suatu ruang yang ada diantara kenyataan dan harapan yang pada akhirnya menimbulkan beberapa persoalan. Contoh kecilnya seperti ini, orang-orang ingin menjadi kaya. Namun, karena harapan mereka untuk menjadi kaya tidak sampai, akhirnya mereka jatuh miskin. Dan kemiskinan ini adalah sebuah masalah. Sama halnya dengan masalah yang saya angkat sekarang, yaitu ‘putus dalam pacaran’. Harapan orang-orang yang menjalankan hubungan asmara (baca: pacaran) adalah bahagia selamanya (katanya sih gitu). Namun karena ada beberapa hal yang terjadi sehingga mereka tidak bisa melanjutkan hubungan tersebut akhirnya mereka ‘putus’. Nah, putus ini adalah masalah. dan sekarang saya akan memaparkannya dengan pendekatan filsafat.

b.      Obyek material permasalahan ini adalah putus itu pasti terjadi, artinya putus itu ada dan sudah menjadi hal yang biasa jika dalam sebuah hubungan itu diakhiri dengan kalimat ‘kita putus!’. Bahkan yang terjadi sekarang pun ada beberapa pasangan yang sudah putus, namun bisa menyatu kembali. Atau istilah yang biasa dipakai adalah ‘putus-nyambung’. Tapi, menurut saya itu sangat tidak masul akal, karena jika sudah putus, ya harusnya putus; tidak nyambung kembali. karena ada istilah keren mengatakan “Balikan sama mantan itu seperti membaca buku dua kali, endingnya pasti sama.” (Ini kata mantan gue, emang dia orang manis terkampret... hu hu hu)

Obyek formal dari permasalah ‘putus dalam pacaran’ atau ‘putus setelah pacaran’ adalah hilangnya tujuan dari pacaran itu sendiri, membahagiakan satu sama lain. Sekarang orang-orang yang pacaran terutama ABG yang masih labil (baca: ABABIL) beranggapan bahwa pacaran hanyalah kesenangan semata, tidak mengandung essensi atau hanya sebuah progress bagi mereka. Jadi, bagi mereka pacaran hanyalah proses untuk putus. Tidak lebih.(Ceileh...!) :v

c.       Pembahasan ontologis adalah pembahasan mengenai hakikat atau substansi dari masalah itu sendiri. Adapun uraian hakikat dari putus dalam pacaran adalah tidak kesesuaian antara orang yang menjalankan hubungan asmara ini dengan apa yang mereka lakukan tersebut. Dengan kata lain, sebenarnya mereka belum siap untuk pacaran, namun karena berawal dari rasa penasaran akhirnya mereka mencoba untuk melakukan itu. Dengan berbagai macam proses yang dilalui akhirnya mereka bisa pacaran. Setelah beberapa lama, akhirnya mereka putus karena ada beberapa hal yang menghambat hubungan mereka. Sampai pada akhirnya mereka patah hati dan galau. Segala macam persoalan hidup sangatlah memberatkan mereka setelah mereka putus. Dari sinilah ada berita atau kasus ‘bunuh diri karena diputusin pacar. Itulah substansi dari permasalahan ini. Pesan moral yang bisa diambil dari hakikat atau substansi permasalahan ini adalah “Jangan bermain api jika takut terbakar”.*Pesan Moral, nih...

d.      Asumsi epistomologis yang digunakan untuk membahas permasalah ini adalah dengan pemikiran filsafat. Menggunakan paradigma yang logis, dengan metode pendekatan filsafat dan benar secara nalar. Pada obyek formal tadi sudah dijelaskan bahwa tujuan dari pacaran adalah membahagiakan satu sama lain. Sekarang pertanyaannya, siapkah untuk membahagiakan satu sama lain dengan menggunakan cara masing-masing? Mungkin, cara orang untuk meraih kebahagiaan atau membuat orang lain bahagia itu ada banyak. Ada yang harus merelakan dirinya supaya orang lain bahagia, ada juga yang harus mengorbankan orang lain untuk kesenangan dia semata. Nah, sekarang tinggal menentukan bagaimana cara kita dan orang lain bisa bahagia dalam waktu yang bersamaan? Jawabannya mudah, kembali kepada pribadi orang yang menjalankan hubungan asmara tersebut. Jadi, pacaran bukan semata-mata proses untuk putus. Tapi proses untuk bahagia bersama pasangannya. Melalui suka dan duka bersama-sama.

e.       Konsep aksiologis yang saya tawarkan sebagai solusi terhadap permasalahan ‘putus dalam pacaran’ ada beberapa yang akan saya sebutkan disini. Yang pertama, jika ingin pacaran, anda harus menyiapkan diri terlebih dahulu. Baik itu siap secara mental, fisik terutama financial. Kenapa harus siap secara finansial? Sekarang kita hidup di zaman yang serba bayar dan bayarnya harus menggunakan uang. Lebih-lebih segala macam barang yang begitu mahal. Untuk keperluan pribadi mungkin bisa diakhirkan. Sekarang bagaimana kebutuhan pacar bisa terpenuhi karena itu adalah sebuah konsekuensi dalam pacaran. Karena ada juga alasan putus adalah salah satu dari mereka tidak bisa memenuhi apa yang diinginkan yang lain. Kurang lebihnya seperti itu. Yang kedua, jangan beranggapan bahwa putus itu hanya terjadi pada orang yang pacaran saja. Yang perlu digaris bawahi adalah perceraian juga bisa dikatakan dengan putus. Sekarang begini, kita akan menggunakan analogi sederhana, orang yang sudah menikah, yang notabenenya sudah terikat dengan janji perkawinan dan ini bukanlah sesuatu yang main-main, bisa saja mereka bercerai, apalagi pacaran yang hanya menggunakan kalimat ‘aku cinta kamu’ kemudian statusnya menjadi pacaran lalu kemudian tidak mau putus? Jangan beranggapan seperti itu. Maka, sangat beruntunglah orang yang pacaran kemudian sampai mereka menikah dan tidak bercerai sampai salah satu dari mereka meninggalkan yang lainnya terlebih dahulu. *Wush... Niup poni*


Gimana dengan jawaban gue? Keren kan? So pasti keren bgt!!!

Itulah cara gue klo ngerjain tugas kampus. Nulis seenak mainin udhel. Tanpa harus nanya Gugel. Atau nanya Yahoo. Ya, karena gue adalah mahasiswa cerdas dengan tingkat intelektual yang tinggi serta diakui oleh negara lain, suka melolong, rajin menabung (hutang), dan paling sering ditinggalin cewek.. *MEWEK*

Dan kalian tau berapa nilai gue di mata kuliah ini? CONGRATULATION, GUE DAPAT C ...!!!
 #KAMPREEEETTTTTTTT

-Nam-

*Foto dari Google*




2 komentar: