Aku adalah manusia yang percaya hukum sebab-akibat. Di mana di kala mengalami patah hati paling dahsyat, pasti diikuti dengan bahagia yang tumbuh cepat. Yang aku yakini, setelah patah hati selalu ada hati baru yang siap mengisi.
Mencintai tanpa terluka, melupakan tanpa mencela.
Setelah ia pergi meninggalkan, ada sesuatu yang harus kulakukan. Ya, segera melupakan. Namun melupakan tidak semudah membuat sarapan. Kenapa harus ‘membuat sarapan?’ sebab, sarapan adalah awal dari sebuah harapan.
Mencintai tanpa mencela, melupakan tanpa terluka.
Satu pelajaran yang dapat diambil dari patah hati, bahwa mencintai selalu indah bila berani untuk memulai. Mulai tumbuh setelah sebelumnya terjatuh; mulai bangkit setelah semua yang dirasa hanyalah sakit. Lupakan kenangan lama, perbaharui ingatan semesta. Yang selalu aku katakan ‘semesta mengamini’ bukan hanya semata ‘mencintai’. Mencintai satu paket dengan merindukan, menyayangi, dan melupakan. Itulah sebabnya, melupakan selalu menjadi sebuah akhir dari awal yang akan dimulai. Yang seharusnya melupakan adalah mengakhiri, namun sebenarnya masih ada kisah yang belum usai.
Mencintai tanpa cela, melupakan tanpa luka.
Ada yang dicinta, ada yang dicela. Ada yang terlupa, ada juga yang terluka. Selama ini debar selalu terjaga. Tinggal bagaimana kita merawat bahagia; meninggalkan kenangan lama; dan jatuh cinta lebih baik dalam nama kita. Lalu kita sama-sama pernah dibohongi cinta; ditimpa kenangan, dijatuhi luka lama, dan masa lalu yang menyesakkan dada. Namun apa yang sekarang kita yakini; Jatuh cinta kembali, dan bahagia lebih baik lagi.
Mataram, 2017

0 komentar:
Posting Komentar