Berapa orang
yang engkau rindu?
Satu? Dua
puluh? Tiga ratus? Cukup satu!
Ada rindu yang
suka disembunyikan.
Entah itu hobi
baru yang cukup menyenangkan,
atau endapan
rasa yang tertekan pualam mematikan.
Intinya, rindu
butuh pertemuan.
Aku suka rindu
yang tak berkesudahan,
Seperti
rindunya si pungguk kepada rembulan.
Ya, seperti
menebak cuaca;
Memperkirakan
sesuatu yang sulit diterka.
Itu macam rindu
yang pertama.
Berapa orang
yang engkau rindu?
Satu? Dua
puluh? Tiga ratus? Cukup satu!
Rindu sering
dikaitkan dengan kenangan.
Baik mereka
yang berusaha melupakan,
maupun mereka
yang menikmati kesendirian.
Akhirnya, yang
disalahkan adalah mantan.
Aku juga suka
rindu seperti ini,
Kenangan-lah alasan
seringnya aku memeluk sepi.
Ya, bersama
sepi segala kenangan kubingkai;
‘terlalu
lama’nya Kunto Aji menjadi playlist yang paling patah hati.
Rindu yang
kedua boleh dicoba.
Berapa orang
yang engkau rindu?
Satu? Dua
puluh? Tiga ratus? Cukup satu!
Rindu juga bisa
membuat rapuh,
Buktinya tangisan
selalu menjadi akhir bagi hati yang sok tangguh.
Sudahlah, buat
rindu menjadi indah,
Seperti sabar
yang ujug-ujungnya berbuah amarah.
Rindu ini tidak
pantas dibangga-banggakan,
Biarkan ia
menjadi sadar yang dilupakan.
Ya, segera kumpulkan
keberanian untuk menyatakan,
“Masihkah ada
balasan untuk rindu yang kusampaikan?”
Rindu yang
ketiga, membuatmu terpenjara.
Mei, 2016

0 komentar:
Posting Komentar