Minggu, 08 Mei 2016

Perihal Rindu [1]



Berapa orang yang engkau rindu?
Satu? Dua puluh? Tiga ratus? Cukup satu!

Ada rindu yang suka disembunyikan.
Entah itu hobi baru yang cukup menyenangkan,
atau endapan rasa yang tertekan pualam mematikan.
Intinya, rindu butuh pertemuan.

Aku suka rindu yang tak berkesudahan,
Seperti rindunya si pungguk kepada rembulan.
Ya, seperti menebak cuaca;
Memperkirakan sesuatu yang sulit diterka.

Itu macam rindu yang pertama.

Berapa orang yang engkau rindu?
Satu? Dua puluh? Tiga ratus? Cukup satu!

Rindu sering dikaitkan dengan kenangan.
Baik mereka yang berusaha melupakan,
maupun mereka yang menikmati kesendirian.
Akhirnya, yang disalahkan adalah mantan.

Aku juga suka rindu seperti ini,
Kenangan-lah alasan seringnya aku memeluk sepi.
Ya, bersama sepi segala kenangan kubingkai;
‘terlalu lama’nya Kunto Aji menjadi playlist yang paling patah hati.

Rindu yang kedua boleh dicoba.

Berapa orang yang engkau rindu?
Satu? Dua puluh? Tiga ratus? Cukup satu!

Rindu juga bisa membuat rapuh,
Buktinya tangisan selalu menjadi akhir bagi hati yang sok tangguh.
Sudahlah, buat rindu menjadi indah,
Seperti sabar yang ujug-ujungnya berbuah amarah.

Rindu ini tidak pantas dibangga-banggakan,
Biarkan ia menjadi sadar yang dilupakan.
Ya, segera kumpulkan keberanian untuk menyatakan,
“Masihkah ada balasan untuk rindu yang kusampaikan?”

Rindu yang ketiga, membuatmu terpenjara.

Mei, 2016

0 komentar:

Posting Komentar