Senin, 18 Mei 2015

Kadang Merasa Berdosa Namun Sering Membuatnya Bahagia

Disaat aku ingin memulai untuk mencintaimu
Engkau mengetahuinya.
Aku berpura-pura tidak mengingat sesuatu.
Dan engkaupun berpura-pura tidak merasakan apa-apa.

Aku gugup. Aku takut.
Gugup menyatakannya, takut jika engkau tidak bersedia.

Naluriku memuncak, berhasyrat untuk segera bertutur
Aku mencoba tenang, aku hembuskan napas panjang, dan...
"Aku mencintaimu karena aku mencintaimu"

Engkau berbalas tutur,
"Kenapa tidak dari tadi, ketika hatiku masih kosong dan belum ada yang mengisinya"

Aku malu,"maaf jika terlalu lancang. Jika tidak keberatan siapakah orang yang lebih dulu menemuimu?"

"Aku juga mencintaimu karena aku mencintaimu. Dan mari sama-sama kita mencari siapa orang yang aku maksud"

Setelah lama kami saling mencintai, dia kemudian berkata,"setelah aku merasa bahagia bersamamu, belumkah engkau sadar siapa orang yang maksud dulu?"

Masih polos, aku menjawab,"belum"

"Orang itu adalah bagian darimu yang berdosa. Dan aku benar-benar merasa sempurna oleh kedua-duanya"

Aku kebingungan.

Hingga pada akhirnya aku tersadar, "kadang merasa berdosa, namun seringkali membuatnya bahagia"..

0 komentar:

Posting Komentar