Tuhan membenciku..
Aku tahu,
Tuhan membiarkan aku sakit..
Aku tahu,
Tuhan tidak peduli aku...
Karena aku,
dilahirkan oleh rasa benci.
Karena aku,
dibesarkan oleh rasa sakit.
Dan...
aku paling benci jika
disakiti...
Mereka tidak tau kenapa aku begini. Dikucilkan dari kehidupan nyata sangatlah
berat. Sekali lagi, di dunia nyata. Maka tak heran jika saja dunia maya tempat
aku merintih dan mencari perhatian orang, meluapakan apa yang aku rasa dan
orang-orang akan peduli terhadapku. Terkadang aku sedikit merasa bahagia,
kadang juga kembali merasa terhina. Banyak dari mereka yang peduli, merasa iba
karena aku mengkoar-koarkan bahwa diriku adalah hina. Dan tak sedikit yang
mencibir aku lewat komentar panas yang membakar perasaan. Aku sadar, aku adalah
lemah. Tak banyak yang bisa aku lakukan pada saat ini. Dan asal kalian tahu,
aku tidak percaya akan keberadaan Tuhan.
Aku seorang atheis. Aku begini karena aku tidak percaya pada orang
lain. Aku begini karena aku juga tidak percaya kepada diriku sendiri. Dan aku
sadar, aku memang salah. Yang membuat aku merasa aneh adalah, kenapa aku selalu
mencari tau tentang perkembangan agama-agama di dunia ini. Hampir semua agama
telah aku pelajari dari berbagai macam sumber. Baik itu media sosial ataupun
media-media lainnya. Aneh memang. Tak heran aku mempunyai banyak teman ‘maya’
yang notabenenya mereka adalah pembesar-pembesar agama mereka. Dan anehnya
lagi,kenapa mereka selalu percaya bahwa aku adalah sebagian dari mereka yang mana
kau mencoba belajar lebih dalam tentang apa yang mereka pelajari pula...
Kisah ini bermula ketika aku masih berumur 16 tahun. Saat itu aku sering
sakit-sakitan. Masyarakat bilang penyakitk sulit untuk disembuhkan dan tidak
akan ada obat yang cocok untuk penyakit ini. Daerah aku tinggal sangatlah
dingin. Terlebih jika dipenhujung musim salju tiba, masayarakat tidak berani
untuk keluar dari rumah-rumah mereka. Tak ada asap yang keluar dari cerobong
asap. Karena atap rumah kami tertutup oleh salju yang tebal. Aktifitas
masyarakat terhenti. Dan tak ada yang bisa dilakukan selain mengunci rumah dan
membuat perapian baru dengan persediaan kayu seadaanya.
Penyakitku makin parah. Aku hanya bisa merintih kesakitan. Kepalaku serasa
mau pecah. Aku berteriaak sejadinya. Memang, diluar sedang badai salju. Hanya
orang didalam rumah yang bisa mendengar teriakanku. Ayah dan ibuku tak bisa
berbuat apa-apa. Memandangiku diatas tempat tidur yang berbentuk kotak
dan aku meronta-ronta kesakitan diatasnya. Adik-adiku hanya bisa duduk
dipojokan rumah sambil menggigil kedinginan. Aku serasa ingin mati. Tiba-tiba
saja rasa sakit itu berhenti. Seiring dengan berhentinya badai, aku merasa
tubuhku sangatlah ringan. Aku bangkit dari tempat tidurku, melihat kedua
orangtuaku yang kelopak matanya sudah cekung, dan rambutnya sudah mulai
terlihat beruban.
“Sudah berapa hari aku disini ?”
Ayah dan ibuku
tidak langsung menjawab, sehingga menarik napas panjang dan berkata, “Aku tau. Kamu kuat, nak”. Aku bingung.
Sedangkan posisiku masih diatas tempat tidur. Ayahku berdiri, mengambil
semangkuk air dan langsung memberiku, “minumlah..!” pintanya.
“Selama musim dingin, kamu tertidur
pulas. Kami tidak tahu, apakah kamu masih hidup atau tidak. Napasmu terhenti
selama itu, sama seperti detak nadimu.”
“Tapi, kenapa kalian tidak
membangunkanku ?” aku bertanya balik
“Mereka melarang kami.”
“Mereka ? Siapa, bu ?”
“Mereka, para penghuni langit.” Ucap
ayahku terbata-bata.
“Sejak kapan kalian percaya adanya
‘mereka’ ? sejak kapan ? tidak, tidak.. lebih baik aku pergi dari sini daripada
harus minum air dari orang yang menghianati nenek moyangku” dengan sisa tenaga
aku mencoba berteriak keras.
“Jangan, Glo. Dengar dulu penjelasan
dari ibu, nak.”
“Aku harus pergi sekarang...!”
Aku bangkit dari tempat tidur,
menuju ke daun pintu. Aku berhenti sejenak, aku pandangi satu-satu adik-adikku.
Kemudian aku pandangi ibu dan ayahku. Aku berpaling. Dalam batinku aku berkata, “Maafkan aku.”
Aku keluar dari rumah, sementara
diluar masih menyisakan puing-puing salju yang masih tebal. Mungkin, esok
hari salju akan segera mencair. Sementara hari masih gelap, aku berjalan,
melangkah, menyusuri jalanan basah. Dengan pakaian seadanya dan dengan sisa
tenaga. Aku tidak berpikir panjang, aku baru saja sembuh dari sakit. Selama
beberapa minggu aku mengalami sakarat. Dan sekarang, aku mencoba lari dari
kenyataan yang ada. Mereka sudah tiada. Aku sekarang sendiri. Tak ada lagi yang
mau mencari. Karena keluar kami adalah satu-satunya keluarga yang tidak percaya
Tuhan. Masyarakat sekitar percaya, kami adalah bagian dari mereka. Dan pada
kenyataannya kami berpaling dari itu semua. Diantarasemua
kegelapan, aku melangkah. Meninggalkan desa yang selama 16 tahun lamanya aku
didalamnya, dan selama 16 tahun pula aku membohongi mereka penghuni desa.
Tidak, aku tidak sendiri, aku dan keluargaku. Tapi sekarang, aku benar-benar
merasa sendiri, keluargaku sudah menjadi bagian dari mereka. Sudah tidak lagi
berpihak kepadaku. Bagiku, keluargaku sudah ‘kufur’.
***
Kembali aku bisa menghirup udara
segar, walau masih menyisakan salju yang masih ada diujung dedauanan hutan. Aku
membuka bola mataku, aku tau sekarang aku berada didalam hutan. Yang aku ingat,
semalam aku berjalan, memaksakan kakiku untuk melangkah dan aku langsung jatuh
dan aku mandapatkan diriku didalam hutan belantara. Aku mencoba bangkit
berdiri, mengumpulkan sisa-sisa tenaga agar bisa melihat kedepan. Tapi aku
masih telalu lemah. Aku lelah, walau tidak mengerti banyak apa yang menyebabkan
aku seperti ini. Untuk kedua kalinya aku seluruh badanku terjatuh kembali ke
tanah..
Aku mencoba membuka kedua bola mata,
perlahan, terasa perih. Mungkin karena pengaruh musim yang akan berganti. Kini,
aku tidak lagi berada di hutan, untuk keseian kalinya aku berada diatas tempat
tidur yang rasanya seperti tempat tidurku dirumah. Kupandangi disekeliling ruangan yang ada hanya cahaya bohlam
lampu yang cahaya akan redup. Aku angkat badanku, mencoba untuk merubah posisi,
masih terasa lemas sekali. Aku kembali terbaaaring. Aku baru sadar, aku mati
suri beberapa minggu dan tidak mendapatkan sedkitpun makanan. Hanya semangku
air putih yang ayah berikan kepadaku kala siuman.
“Dimana aku ?” Aku mencoba berteriak.
Masih hening, tak ada jawaban.
Berharap ada orang yang membuka pintu dan menanayakan keadaanku. Aku kembali
berteriak, “siapapun itu, dimana aku sekarang ?”. tiba-tiba terdengar suara
langkah cepat mendekati daun pintu. Seketika aku bisa bangkit, sedikit merasa
takut. “Siapa disana ?” aku cepat-cepat bangkit membuang kain yang menutui
setengah badanku.
Sosok perempuan paruh baya dengan
jubah mirip seperti pendeta-pendeta mendekatiku dan berkata, “aku menemukanmu
didalam hutan tadi pagi” ucapnya halus.
“Dimana aku sekarang ?”aku
bersikeras tidak percaya kepadanya.
“Kamu aman disini. Orang-orang
diluar sedang mencari perampok yang mencuri alkitab dari gereja” dia mencoba
menjelaskan
“Aku tidak percaya Tuhan”.
“Ampunilah dosa hamba, Yesus, baru
kali ini aku menemukan seorang yang berani berkata seperti itu.”
“Katakan, dimana aku sekarang ?”
“Kamu sekarang ada di desa kami,
desa Varma” katanya lembut, seketika aku teringat sosok ibuku.
“Aku baru mendengar nama desa ini” Seakan
aku luluh akan ucapannya
“Kamu hendak kemana, sampai saya
menemukanmu di hutan dalam keadaan lusuh seperti ini ?”
“Saya sebenarnya belum percaya
kepada anda. Tapi andalah yang menyelamatkan saya dari...”
Kepalaku tiba-tiba saja terasa
berat. Aku tersungkur dibawah tempat tidur. Perempuan itu berlari kearahku,
meeraih tanganku dan menuntunku kembali keatas tempat tidur. Sekali aku sadar,
aku tak pantas untuk angkuh kepada orang lain, terlebih orang yang telah
meyelamatkanku. “Terima kasih, siapapun anda.” Batinku dalam hati.
“Tunggu disini, akan aku ambilkan
beberapa makanan untukumu. Tampak sekali kamu belum makan .”
Aku hanya bisa diam.
*Bersambung...

0 komentar:
Posting Komentar