Negri
Noseland terkenal dengan penduduk yang gemar membuat parfum. Tak heran jika hampir
80% penduduk memproduksi parfum dan menjualnya ke luar negri dengan harga yang
sangat mahal. Terbukti wangi yang dihasilkan oleh farfum negri Noseland ini
bisa membuat orang lupa diri. Terlebih, untuk mereka yang sedang jatuh cinta. Sebab,
parfum adalah salah satu senjata pamungkas untuk memikat lawan jenis, khusunya
perempuan.
Makin
tahun, penjualan farfum di Noseland semakin berkembang pesat. Semua berkat
kerja keras penduduk ditambah lagi dukungan penuh dari raja mereka, Raja
Akmael. Keturunan dari Raja Al-Malik dari negri Eyebrownland, dengan penduduk
rata-rata berprofesi sebagai penyulam alis. Kedua negri ini hanya dibatasi oleh
sungai kecil sebelah timur Noseland. Selain berprofesi sebagai penjual parfum,
sebagian penduduk Noseland bekerja di perbatasan sebagai ojek sampan. Biasanya mereka
yang bekerja sebagai tukang ojek sampan adalah penduduk dengan tingkat ekonomi
rendah.
Selama
10 tahun terakhir, kedua raja ini belum pernah bergeser dari masa jabatannya. Barangkali, para penduduk
sudah merasa nyaman dipimpin oleh raja masing-masing dengan damai dan juga tingkat
ekonomi yang lebih dari cukup. Raja yang adil adalah raja yang tidak pernah
berbuat dzalim kepada penduduknya. Itulah yang dilakukan oleh kedua raja ini,
memimpin Negri dengan bijaksana dan sama sekali tidak pernah terjadi perselisihan
antara pihak kerajaan atau pun penduduknya itu sendiri.
Hingga
suatu ketika, raja Akmael mengumpulkan penduduk di depan halaman kerajaan. Raja
Akmael mengatakan bahwa ia akan berangkat melakukan perjalanan selama beberapa
hari kedepan dengan tujuan observasi lapangan dan bertemu dengan orang-orang
besar yang akan ia jadikan sebagai kru kerajaan di negri Noseland. Para penduduk
serasa tidak rela melepas raja mereka walau hanya untuk beberapa hari. Namun,
raja Akmael kembali meyakinkan bahwa tujuan ia melakukan perjalanan adalah demi
kepentingan negri. Para penduduk bersorak ramai dengan hati bangga memiliki
pemimpin seperti raja Akmael.
Tibalah
saatnya raja Akmael memulai perjalannya. Iringan musik dari gerbang kerajaan
hingga perbatasan negri membuat penduduk makin tidak bisa melepas kepergian
raja mereka. Sengaja sang raja membawa bekal yang tidak terlalu banyak. Karena rata-rata
penduduk memberikan parfum dengan wangi terbaik mereka kepada raja agar raja
selalu harum selama perjalanannya. Dengan senang hati raja Akmael menerima
pemberian penduduknya. Ya, harusnya pemimpin seperti raja Akmael.
Hari
pertama raja Akmael sudah bisa merekrut seorang tabib yang akan ia jadikan
sebagai tabib kerajaan. Dan akan ia ikutkan juga dalam perjalanan. Para prajurit
kerajaan merasa heran, kenapa tiba-tiba sang raja begitu akrab dengan tabib
baru. Namun, mereka kembali berpikir raja Akmael memang orang yang mudah
bergaul dengan orang baru. Semua kembali melanjutkan perjalannya.
Sebelumnya sang raja
belum pernah menceritakan hal ini kepada kru kerajaan. Bahkan ia tidak
menceritakannya kepada sang ratu. Ternyata sang raja selama ini mengidap Sinusitis.
Semacam radang pada rongga hidung akibat pilek atau semacamnya.
Itulah sebabnya sang
raja begitu dekat dengan tabib baru. Ia bertanya perihal Sinusitis yang ia idap
selama kurang lebih 9 tahun. Inilah yang ditakutkan oleh sang raja. Ketika penduduk
tahu sang raja mengidap penyakit Sinusitis, para penduduk berhenti memproduksi
parfum karena mereka tidak mau apa yang mereka hasilkan tidak bisa dinikmati
oleh sang raja. Memang, keterikatan batin antara raja dan penduduk sudah begitu
erat. Sama seperti para penduduk sudah hafal dengan bahan-bahan parfum yang
menghasilkan wangi yang begitu wangi tanpa harus mencium bahannya terlebih
dahulu. Begitulah Noseland.
Akhirnya raja Akmael
bersama rombongan sudah selsai melukakan perjalanan. Hasil dari perjalanan
mereka adalah mendapatkan tabib baru, seorang tukang kebun dan tukang masak
khusus di restoran yang raja sudah dirikan di tengah kota. Tentunya itu adalah
hadiah yang diberikan raja kepada penduduk. Kini, penduduk tidak perlu lagi
takut kelaparan. Karena jika ada penduduk yang ingin merasakan masakan
kerajaan, singgahlah di restoran itu. Tanpa harus mengeluarkan uang yang
banyak.
Para penduduk makin
merasa nyaman tinggal di Noseland dengan memiliki raja yang sangat bijaksana.
***
Suatau
malam, raja Akmael merasakan sakit dibagian hidungnya. Rasa sakit ini tidak
biasa, ditambah lagi batuk-batuk yang makin parah dan hidung sang raja
tersumbat. Sang ratu kebingungan dan langsung membangunkan asisten raja untuk
segera memanggil tabib baru mereka. Sang raja hanya bisa menjerit kesakitan
dengan napas tersendat-sendat akibat dahak yang nyangkut di tenggorkan.
“Tenanglah
suamiku,” Ucap ratu sambil memegang tangan suaminya.
Sang
tabib sudah memasuki ek dalam kamar raja dengan segala perkakasnya. Pertama-tama
sang tabib menanyakan bagian hidung mana yang terasa sakit. Sang raja yang
tadinya hanya menjerit kini sudah mulai tenang. Tabib mengurut pelan hidung
raja dengan dioleskan pelicin agar tidak teralu kering. Tak lama tabib menyuruh
asisten memanggil semua orang-orang besar kerajaan untuk segera berkumpul di
kamar raja. Tentunya atas izin raja dan setelah apa yang diomongkan sang raja
dengan tabib baru selama ini akan terjawab semua.
Semua
telah berkumpul di kamar sang raja, sang raja mencoba duduk dengan bersandar di
bagian sandaran ranjang.
“Para
pembesar kerajaan yang terhormat,” Suara raja Akmael terdengar serak-serak
basah.
Ia berdehem
pelan lalu melanjutkan, “Sebelumnya, saya berterima kasih telah bekerja sama
demi memakmurkan Negri. Karena itu semua para penduduk merasa puas dengan apa
yang kita lakukan selama ini, terima kasih, terima kasih.”
“Saya
juga meminta maaf sebelumnya. Bukannya sombong dan tidak mau memberi tahu yang
sebenarnya terjadi. Sudah lama saya mengidap penyakit Sinusitis dan tidak
pernah menceritakannya kepada siapapun, termasuk istri saya. Tapi, setelah saya
bertemu dengan Ahmaed (nama tabib baru), saya banyak tahu tentang penyakit Sinusitis.
Dan sekarang penyakitnya sudah masuk kategori Sinusitis kronis.”
“Kemudian
apa yang harus paduka raja lakukan?” Tanya juru bicara kerajaan.
“Ahmaed,
tolong jelaskan!” Pinta sang raja kepada sang tabib.
“Sinusitis
bisa menjadi penyakit yang mematikan. Rasa sakit yang terjadi akibat radang di
hidung itu bisa mempengaruhi fungsi indra penciuman. Dan jika dibiarkan terlalu
lama, akan menyebabkan infeksi yang dapat menyebar ke daerah sekitar mata, tulang, darah atau otak.”
“Apakah yang anda bisa lakukan untuk
paduka raja, tabib?” Juru bicara kerajaan kembali bertanya.
“Satu-satunya cara adalah dengan
melakukan operasi,” Tabib langsung menjawab
Sang ratu tidak kuat mendengar
penyataan dari sang tabib, tiba-tiba saja jatuh pingsan. Ya, kebanyakan wanira
melakukan hal semacam ini ketika shock.
“Lalu apakah paduka raja bersedia
melakukan operasi?”
“Saya bersedia!” Sang raja yang langsung
menjawab pertanyaan juru bicara.
“Operasi akan dilakukan pagi hari
nanti pukul sembilan tepat. Umukan kepada seluruh penduduk untuk mendoakan sang
raja agar berhasil dari operasi ini.” Tabib member perintah kepada asisten
kerajaan.
“ Satu lagi… Berapakah kemungkinan
berhasilnya operasi?”
“55%.”
Sang ratu yang tadinya hampir siuman,
kini kembali pingsan. Sekali lagi, wanita memang begitu.
***
Hingga
tiba waktunya raja Akmael akan dioperasi. Kabar ini sampai ke telinga raja
Al-Malik. Bersama beberapa rombongan kerajaan, raja Al-Malik dating ke Noseland
dengan tujuan menunggu hasil akhir dari operasi raja Akmael. Hari itu adalah
hari yang paling menegangkan di Noseland.
Setelah
semua telah dipersiapkan, sang tabib bersama rekannya masusk ke kamar sang
raja. Kamar inilah yang akan menjadi saksi nantinya apa yang telah diusahakn
oleh sang tabib demi menyembukan penyakit Sinusitis sang raja. Mereka memulai
proses operasi.
Sang
ratu harap-harap cemas menunggu di depan kamar. Sambil ditemani istri dari raja
Al-Malik, mereka mulai melakukan hal yang wanita biasa lalukan; gossip dan
pamer-pamer.
“Gimana
perkembangan sulam alis di Eyebrownland?” Ratu Noseland membuka percakapan.
“Ya,
begitulah. Kemarin suamiku baru saja pulang dari Timur Tengah membelikan aku
tas yang terbuat dari kulit onta.” Pamernya sambil menunjukan tas kulit onta.
“Sebelum
sakit, suamiku dong, membelikan aku cincin dari Mesir. Emasnya langsung di
ambil dari dasar sungai Nil. Ini cincinya, dua lagi.” Ratu Noseland tidak mau
kalah.
Setelah
beberapa jam mereka pamer-pameran harta, kini sang tabib keluar dari kamar
dengan stetoskop melingkari lehernya.
“Bagaimana
hasilnya, tabib?” Tanya asistern raja.
“Operasinya
berjalan lancar. Dan raja Akmael bisa melakukan aktifitasnya sebagai raja. Hanyasaja
beliau harus banyak-banyak istirahat untuk beberapa minggu.”
“Syukurlah
kalau begitu. Ayo umumkan sekarang juga kepada para penduduk!” Asisten raja memberi
perintah.
“Sebentar…
sebenaranya raja ingin mengatakan
sesuatu kepada seluruh penduduk negri Noseland. Tapi kita tunggu sampai nanti
sore. Biarkan paduka raja yang mengumunkannya sendiri."
Asisten
raja hanya mengangguk pelan.
***
Seluruh
penduduk dan kru kerajaan menunggu apa yang akan disampaikan oleh sang raja. Walaupun
mereka masih penasaran apa yang akan disampaikan oleh sang raja. Tapi,
kepatuhan mereka inilah yang menjadi boomerang bagi mereka jika hal buruk
terjadi. Dan ternyata benar, akhirnya raja mengumpulan semua penduduk Noseland.
Kali
ini penampilan raja berbeda seperti biasanya. Dia memakai masker. Semua orang
berpikir orang sakit memang harus memakai masker, apalagi pengidap penyakit Sinusitis.
Raja Akmael memulai pembicaraannya,
“Para
kru kerajaan dan para penduduk yang saya cintai. Saya sangat besyukur masih
bisa menemani kalian dan memelihara Noseland kita teercinta ini. Saya sangat
bersyukur. Setelah sebelumnya saya telah ditakutkan oleh penyakit yang sukah
saya idap ini. Tapi berkat tabib kita inilah, saya bisa kembali sehat dan
mejalankan aktifitas sebagai raja walaupun belum maksimal untuk beberapa minggu
kedepan.”
Semua
penduduk bertepuk tangan.
“Dan
ada satu hal yang perlu saya sampaikan. Noseland ibaratkan satu tubuh. Jadi jika
satu merasakan kesakitan, maka bagian yang lain juga akan merasakannya. Maka sesuai
dengan janji Noseland dan keputusan raja… “
Raja
membuka maskernya. Dan semua orang tercengang dengan apa yang mereka lihat. Hidung
raja ternyata telah dipotong.
“…Maka
setelah saya akhiri pengumuman ini, saya berharap semua kru kerajaan dan
seluruh penduduk Noseland wajib memotong hidung seperti apa yang kalian lihat
sekarang. Dan barangsiapa yang tidak melakukannya, maka saya sendiri yang akan
menghukumnya dengan hukuman yang setimpal.” Raja Akmael menutup pembicaraannya.
Riuh
tepuk tangan sekarang tidak sesemangat yang tadi. Apa boleh buat.
***
Kini,
seluruh penghungi negri Noseland memiliki keunikan tersendiri. Yaitu bentuk
hidung yang rata. Dan tiap kali ada bayi yang baru lahir, wajib hukumnya untuk
memotong hidungnya. Siapapun. tapi, walaupun penduduk Noseland memilik
penciuman yang terbatas, mereka tetap memproduksi parfum. Karena parfum dan
Noseland adalah dua elemen yang tidak bisa dipisah.
Beberapa
tahun kemudian, setelah penduduk Noseland terbiasa dengan bentuk hidung seperti
itu, dan raja Akmael sudah digantikan oleh putranya, raja Akmael II. Sebagai penghormatan
kepada raja Akmael, setiap tanggal 11 Januari, seluruh penduduk menyirami
kuburan raja Akmael dengan sebotol parfum isi 6 ml.
Lucunya,
ketika salah seorang pengembara berkunjung ke Noseland, dan ia memasuki kawasan
kota, seluruh penduduk akan mentertawainya sambil mengatakan,”HIDUNGNYA ANEH
SEKALI… HAHAHAHA.”
-Tamat-
Bima, 24 Januari 2015.
Pukul 12.14

0 komentar:
Posting Komentar