Jumat, 23 Januari 2015

[CERPEN] Kisah Dari Negri Noseland


            Negri Noseland terkenal dengan penduduk yang gemar membuat parfum. Tak heran jika hampir 80% penduduk memproduksi parfum dan menjualnya ke luar negri dengan harga yang sangat mahal. Terbukti wangi yang dihasilkan oleh farfum negri Noseland ini bisa membuat orang lupa diri. Terlebih, untuk mereka yang sedang jatuh cinta. Sebab, parfum adalah salah satu senjata pamungkas untuk memikat lawan jenis, khusunya perempuan.

            Makin tahun, penjualan farfum di Noseland semakin berkembang pesat. Semua berkat kerja keras penduduk ditambah lagi dukungan penuh dari raja mereka, Raja Akmael. Keturunan dari Raja Al-Malik dari negri Eyebrownland, dengan penduduk rata-rata berprofesi sebagai penyulam alis. Kedua negri ini hanya dibatasi oleh sungai kecil sebelah timur Noseland. Selain berprofesi sebagai penjual parfum, sebagian penduduk Noseland bekerja di perbatasan sebagai ojek sampan. Biasanya mereka yang bekerja sebagai tukang ojek sampan adalah penduduk dengan tingkat ekonomi rendah.

            Selama 10 tahun terakhir, kedua raja ini belum pernah bergeser dari  masa jabatannya. Barangkali, para penduduk sudah merasa nyaman dipimpin oleh raja masing-masing dengan damai dan juga tingkat ekonomi yang lebih dari cukup. Raja yang adil adalah raja yang tidak pernah berbuat dzalim kepada penduduknya. Itulah yang dilakukan oleh kedua raja ini, memimpin Negri dengan bijaksana dan sama sekali tidak pernah terjadi perselisihan antara pihak kerajaan atau pun penduduknya itu sendiri.

            Hingga suatu ketika, raja Akmael mengumpulkan penduduk di depan halaman kerajaan. Raja Akmael mengatakan bahwa ia akan berangkat melakukan perjalanan selama beberapa hari kedepan dengan tujuan observasi lapangan dan bertemu dengan orang-orang besar yang akan ia jadikan sebagai kru kerajaan di negri Noseland. Para penduduk serasa tidak rela melepas raja mereka walau hanya untuk beberapa hari. Namun, raja Akmael kembali meyakinkan bahwa tujuan ia melakukan perjalanan adalah demi kepentingan negri. Para penduduk bersorak ramai dengan hati bangga memiliki pemimpin seperti raja Akmael.

            Tibalah saatnya raja Akmael memulai perjalannya. Iringan musik dari gerbang kerajaan hingga perbatasan negri membuat penduduk makin tidak bisa melepas kepergian raja mereka. Sengaja sang raja membawa bekal yang tidak terlalu banyak. Karena rata-rata penduduk memberikan parfum dengan wangi terbaik mereka kepada raja agar raja selalu harum selama perjalanannya. Dengan senang hati raja Akmael menerima pemberian penduduknya. Ya, harusnya pemimpin seperti raja Akmael.

            Hari pertama raja Akmael sudah bisa merekrut seorang tabib yang akan ia jadikan sebagai tabib kerajaan. Dan akan ia ikutkan juga dalam perjalanan. Para prajurit kerajaan merasa heran, kenapa tiba-tiba sang raja begitu akrab dengan tabib baru. Namun, mereka kembali berpikir raja Akmael memang orang yang mudah bergaul dengan orang baru. Semua kembali melanjutkan perjalannya.

Sebelumnya sang raja belum pernah menceritakan hal ini kepada kru kerajaan. Bahkan ia tidak menceritakannya kepada sang ratu. Ternyata sang raja selama ini mengidap Sinusitis. Semacam radang pada rongga hidung akibat pilek atau semacamnya.

Itulah sebabnya sang raja begitu dekat dengan tabib baru. Ia bertanya perihal Sinusitis yang ia idap selama kurang lebih 9 tahun. Inilah yang ditakutkan oleh sang raja. Ketika penduduk tahu sang raja mengidap penyakit Sinusitis, para penduduk berhenti memproduksi parfum karena mereka tidak mau apa yang mereka hasilkan tidak bisa dinikmati oleh sang raja. Memang, keterikatan batin antara raja dan penduduk sudah begitu erat. Sama seperti para penduduk sudah hafal dengan bahan-bahan parfum yang menghasilkan wangi yang begitu wangi tanpa harus mencium bahannya terlebih dahulu. Begitulah Noseland.

Akhirnya raja Akmael bersama rombongan sudah selsai melukakan perjalanan. Hasil dari perjalanan mereka adalah mendapatkan tabib baru, seorang tukang kebun dan tukang masak khusus di restoran yang raja sudah dirikan di tengah kota. Tentunya itu adalah hadiah yang diberikan raja kepada penduduk. Kini, penduduk tidak perlu lagi takut kelaparan. Karena jika ada penduduk yang ingin merasakan masakan kerajaan, singgahlah di restoran itu. Tanpa harus mengeluarkan uang yang banyak.

Para penduduk makin merasa nyaman tinggal di Noseland dengan memiliki raja yang sangat bijaksana.

***

            Suatau malam, raja Akmael merasakan sakit dibagian hidungnya. Rasa sakit ini tidak biasa, ditambah lagi batuk-batuk yang makin parah dan hidung sang raja tersumbat. Sang ratu kebingungan dan langsung membangunkan asisten raja untuk segera memanggil tabib baru mereka. Sang raja hanya bisa menjerit kesakitan dengan napas tersendat-sendat akibat dahak yang nyangkut di tenggorkan.

            “Tenanglah suamiku,” Ucap ratu sambil memegang tangan suaminya.

            Sang tabib sudah memasuki ek dalam kamar raja dengan segala perkakasnya. Pertama-tama sang tabib menanyakan bagian hidung mana yang terasa sakit. Sang raja yang tadinya hanya menjerit kini sudah mulai tenang. Tabib mengurut pelan hidung raja dengan dioleskan pelicin agar tidak teralu kering. Tak lama tabib menyuruh asisten memanggil semua orang-orang besar kerajaan untuk segera berkumpul di kamar raja. Tentunya atas izin raja dan setelah apa yang diomongkan sang raja dengan tabib baru selama ini akan terjawab semua.

            Semua telah berkumpul di kamar sang raja, sang raja mencoba duduk dengan bersandar di bagian sandaran ranjang.

            “Para pembesar kerajaan yang terhormat,” Suara raja Akmael terdengar serak-serak basah.

            Ia berdehem pelan lalu melanjutkan, “Sebelumnya, saya berterima kasih telah bekerja sama demi memakmurkan Negri. Karena itu semua para penduduk merasa puas dengan apa yang kita lakukan selama ini, terima kasih, terima kasih.”

            “Saya juga meminta maaf sebelumnya. Bukannya sombong dan tidak mau memberi tahu yang sebenarnya terjadi. Sudah lama saya mengidap penyakit Sinusitis dan tidak pernah menceritakannya kepada siapapun, termasuk istri saya. Tapi, setelah saya bertemu dengan Ahmaed (nama tabib baru), saya banyak tahu tentang penyakit Sinusitis. Dan sekarang penyakitnya sudah masuk kategori Sinusitis kronis.”

            “Kemudian apa yang harus paduka raja lakukan?” Tanya juru bicara kerajaan.

            “Ahmaed, tolong jelaskan!” Pinta sang raja kepada sang tabib.

            “Sinusitis bisa menjadi penyakit yang mematikan. Rasa sakit yang terjadi akibat radang di hidung itu bisa mempengaruhi fungsi indra penciuman. Dan jika dibiarkan terlalu lama, akan menyebabkan infeksi yang dapat menyebar ke daerah sekitar mata, tulang, darah atau otak.

            “Apakah yang anda bisa lakukan untuk paduka raja, tabib?” Juru bicara kerajaan kembali bertanya.

            “Satu-satunya cara adalah dengan melakukan operasi,” Tabib langsung menjawab

            Sang ratu tidak kuat mendengar penyataan dari sang tabib, tiba-tiba saja jatuh pingsan. Ya, kebanyakan wanira melakukan hal semacam ini ketika shock.

            “Lalu apakah paduka raja bersedia melakukan operasi?”

            “Saya bersedia!” Sang raja yang langsung menjawab pertanyaan juru bicara.

            “Operasi akan dilakukan pagi hari nanti pukul sembilan tepat. Umukan kepada seluruh penduduk untuk mendoakan sang raja agar berhasil dari operasi ini.” Tabib member perintah kepada asisten kerajaan.

            “ Satu lagi… Berapakah kemungkinan berhasilnya operasi?”

            “55%.”

            Sang ratu yang tadinya hampir siuman, kini kembali pingsan. Sekali lagi, wanita memang begitu.

***

            Hingga tiba waktunya raja Akmael akan dioperasi. Kabar ini sampai ke telinga raja Al-Malik. Bersama beberapa rombongan kerajaan, raja Al-Malik dating ke Noseland dengan tujuan menunggu hasil akhir dari operasi raja Akmael. Hari itu adalah hari yang paling menegangkan di Noseland.

            Setelah semua telah dipersiapkan, sang tabib bersama rekannya masusk ke kamar sang raja. Kamar inilah yang akan menjadi saksi nantinya apa yang telah diusahakn oleh sang tabib demi menyembukan penyakit Sinusitis sang raja. Mereka memulai proses operasi.

            Sang ratu harap-harap cemas menunggu di depan kamar. Sambil ditemani istri dari raja Al-Malik, mereka mulai melakukan hal yang wanita biasa lalukan; gossip dan pamer-pamer.

            “Gimana perkembangan sulam alis di Eyebrownland?” Ratu Noseland membuka percakapan.

            “Ya, begitulah. Kemarin suamiku baru saja pulang dari Timur Tengah membelikan aku tas yang terbuat dari kulit onta.” Pamernya sambil menunjukan tas kulit onta.

            “Sebelum sakit, suamiku dong, membelikan aku cincin dari Mesir. Emasnya langsung di ambil dari dasar sungai Nil. Ini cincinya, dua lagi.” Ratu Noseland tidak mau kalah.

            Setelah beberapa jam mereka pamer-pameran harta, kini sang tabib keluar dari kamar dengan stetoskop melingkari lehernya.

            “Bagaimana hasilnya, tabib?” Tanya asistern raja.

            “Operasinya berjalan lancar. Dan raja Akmael bisa melakukan aktifitasnya sebagai raja. Hanyasaja beliau harus banyak-banyak istirahat untuk beberapa minggu.”

            “Syukurlah kalau begitu. Ayo umumkan sekarang juga kepada para penduduk!” Asisten raja memberi perintah.

            “Sebentar…  sebenaranya raja ingin mengatakan sesuatu kepada seluruh penduduk negri Noseland. Tapi kita tunggu sampai nanti sore. Biarkan paduka raja yang mengumunkannya sendiri."

            Asisten raja hanya mengangguk pelan.

***

            Seluruh penduduk dan kru kerajaan menunggu apa yang akan disampaikan oleh sang raja. Walaupun mereka masih penasaran apa yang akan disampaikan oleh sang raja. Tapi, kepatuhan mereka inilah yang menjadi boomerang bagi mereka jika hal buruk terjadi. Dan ternyata benar, akhirnya raja mengumpulan semua penduduk Noseland.

            Kali ini penampilan raja berbeda seperti biasanya. Dia memakai masker. Semua orang berpikir orang sakit memang harus memakai masker, apalagi pengidap penyakit Sinusitis. Raja Akmael memulai pembicaraannya,

            “Para kru kerajaan dan para penduduk yang saya cintai. Saya sangat besyukur masih bisa menemani kalian dan memelihara Noseland kita teercinta ini. Saya sangat bersyukur. Setelah sebelumnya saya telah ditakutkan oleh penyakit yang sukah saya idap ini. Tapi berkat tabib kita inilah, saya bisa kembali sehat dan mejalankan aktifitas sebagai raja walaupun belum maksimal untuk beberapa minggu kedepan.”

            Semua penduduk bertepuk tangan.

            “Dan ada satu hal yang perlu saya sampaikan. Noseland ibaratkan satu tubuh. Jadi jika satu merasakan kesakitan, maka bagian yang lain juga akan merasakannya. Maka sesuai dengan janji Noseland dan keputusan raja… “

            Raja membuka maskernya. Dan semua orang tercengang dengan apa yang mereka lihat. Hidung raja ternyata telah dipotong.

            “…Maka setelah saya akhiri pengumuman ini, saya berharap semua kru kerajaan dan seluruh penduduk Noseland wajib memotong hidung seperti apa yang kalian lihat sekarang. Dan barangsiapa yang tidak melakukannya, maka saya sendiri yang akan menghukumnya dengan hukuman yang setimpal.” Raja Akmael menutup pembicaraannya.

            Riuh tepuk tangan sekarang tidak sesemangat yang tadi. Apa boleh buat.

***

            Kini, seluruh penghungi negri Noseland memiliki keunikan tersendiri. Yaitu bentuk hidung yang rata. Dan tiap kali ada bayi yang baru lahir, wajib hukumnya untuk memotong hidungnya. Siapapun. tapi, walaupun penduduk Noseland memilik penciuman yang terbatas, mereka tetap memproduksi parfum. Karena parfum dan Noseland adalah dua elemen yang tidak bisa dipisah.

            Beberapa tahun kemudian, setelah penduduk Noseland terbiasa dengan bentuk hidung seperti itu, dan raja Akmael sudah digantikan oleh putranya, raja Akmael II. Sebagai penghormatan kepada raja Akmael, setiap tanggal 11 Januari, seluruh penduduk menyirami kuburan raja Akmael dengan sebotol parfum isi 6 ml.

            Lucunya, ketika salah seorang pengembara berkunjung ke Noseland, dan ia memasuki kawasan kota, seluruh penduduk akan mentertawainya sambil mengatakan,”HIDUNGNYA ANEH SEKALI… HAHAHAHA.”

-Tamat-

Bima, 24 Januari 2015.
Pukul 12.14

            

0 komentar:

Posting Komentar